Notification

×

Iklan

Iklan

Dari Negeri Gingseng hingga ke Tirai Bambu, QRIS Makin Melaju

Jumat, 15 Mei 2026 | 15.53 WIB Last Updated 2026-05-15T08:55:23Z

 


 Penulis: Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra
Pekerjaan: Pegawai Bank Indonesia

Aktualita.co - Dari Seoul hingga Shanghai, transaksi kini dapat dilakukan hanya lewat satu pindai kode QR. Di tengah perubahan tersebut, QRIS terus memperluas jangkauannya dan menegaskan posisi Indonesia dalam konektivitas pembayaran kawasan.

Tiongkok resmi masuk dalam jaringan pembayaran lintas negara berbasis QR code per 30 April 2026. Negeri Tirai Bambu itu menyusul Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, dan Korea Selatan yang telah lebih dahulu terhubung dengan sistem pembayaran nasional Indonesia. Langkah tersebut menjadi fase penting dalam penguatan konektivitas sistem pembayaran kawasan. QRIS tidak lagi diposisikan hanya sebagai instrumen transaksi domestik, melainkan mulai berkembang sebagai penghubung ekosistem ekonomi digital lintas negara.

Perkembangan itu sejalan dengan pertumbuhan transaksi digital nasional yang terus meningkat. Dalam Konferensi Pers pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026, Gubernur Perry Warjiyo menyampaikan bahwa pengguna QRIS telah melampaui 60 juta pengguna. Pertumbuhannya bahkan mencapai 111,94 persen secara tahunan. Kinerja tersebut memperlihatkan tingginya penerimaan masyarakat terhadap pembayaran digital. QRIS kini digunakan semakin luas, mulai dari pusat perbelanjaan modern hingga pelaku UMKM di berbagai daerah.

Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital pada triwulan I-2026 mencapai 14,39 miliar transaksi atau tumbuh 33,76 persen secara tahunan. Peningkatan tersebut didukung oleh perluasan akseptasi pembayaran digital dan penguatan infrastruktur sistem pembayaran nasional. Dari sisi kanal transaksi, volume transaksi melalui mobile banking tumbuh 7,88 persen. Sementara transaksi internet banking meningkat 16,35 persen secara tahunan. Angka tersebut menunjukkan perubahan perilaku masyarakat yang semakin adaptif terhadap layanan keuangan digital.

Penguatan sistem pembayaran juga terlihat pada kinerja BI-FAST. Volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 1,4 miliar transaksi atau tumbuh 30,82 persen dengan nominal transaksi sebesar Rp3.519 triliun pada triwulan I-2026. Sementara itu, transaksi nilai besar melalui BI-RTGS tercatat sebesar 2,46 juta transaksi. Meski volume tumbuh melambat, nominal transaksi tetap meningkat 11,26 persen menjadi Rp51.490 triliun.

Di sisi lain, penggunaan uang tunai tetap menunjukkan tren positif. Uang Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 8,59 persen menjadi Rp1.346 triliun pada triwulan I-2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa digitalisasi pembayaran berjalan berdampingan dengan kebutuhan masyarakat terhadap uang Rupiah.

Ekspansi QRIS lintas negara memiliki arti strategis bagi Indonesia. Integrasi pembayaran regional mampu menciptakan transaksi yang lebih cepat, efisien, dan praktis bagi masyarakat maupun pelaku usaha. Di saat yang sama, langkah ini juga memperkuat posisi Indonesia dalam arsitektur ekonomi digital kawasan.

Ke depan, tantangan tentu masih ada. Penguatan keamanan siber, pemerataan infrastruktur digital, dan peningkatan literasi masyarakat menjadi pekerjaan penting agar transformasi sistem pembayaran berjalan inklusif dan berkelanjutan. Namun satu hal mulai terlihat jelas. QRIS tidak lagi sekadar alat pembayaran. QRIS telah berkembang dari simbol akselerasi ekonomi digital Indonesia di tingkat regional, hingga terus melaju ke kancah Internasional.