Sponsor Rokok dan Prestasi Olahraga : Kisah Gudang Garam dan Wismilak

Iklan Semua Halaman

Sponsor Rokok dan Prestasi Olahraga : Kisah Gudang Garam dan Wismilak

Selasa, 10 September 2019




Aktualita.co - PB Djarum memutuskan untuk menghentikan audisi umum bulu tangkis dan pamit sementara untuk tidak menyelenggarakan kegiatan serupa di tahun 2020.

Selain Djarum, sejumlah perusahaan rokok lekat dengan olahraga Indonesia. Sebutlah misalnya sepakbola yang pernah disponsori rokok termasuk klub sepakbolanya. Juga basket yang mendapat sponsor rokok untuk menjalankan turnamen mereka.


Dua cabang olahraga ini bisa terus eksis walau tak lagi disponsori perusahaan rokok. Walau demikian, sejumlah cabang lain mengalami nasib lain setelah tak lagi bersama sponsor rokok.

Berikut ulasan Aktualita yang dihimpun dari berbagai sumber:

Persatuan Tenis Meja Surya Gudang Garam


Tenis Meja awalnya tidak bisa dipisahkan dari PT Gudang Garam. Salah satunya Persatuan Tenis Meja (PTM) Surya Gudang Garam yang berdiri sejak 14 Oktober 1984.

Klub tenis meja tersebut telah tutup sejak tahun 2008. Walau PT Gudang Garam menilai tutupnya klub tenis meja terbesar di Indonesia tersebut merupakan keputusan interen klub.

Awal Berdiri Klub Surya Gudang Garam Kediri awalnya bernama Perkumpulan Tenis Meja (PTM) Sanjaya yang dirintis Empie James Wuisan, Diana Wuisan Tedjasukmana, dan Sinyo Supit pada 14 Oktober 1982.

Ketiga atlet yang berjaya di berbagai "event" nasional dan internasional itu sengaja didatangkan Susilo Wonowidjoyo (anak kandung pendiri Gudang Garam, Suryo Wonowidjojo) ke Kediri. Di masa keemasannya, Empie menorehkan beberapa prestasi, diantaranya empat medali emas pada SEA Games 1977, dua emas SEA Games 1979 dan medali perak dalam nomor ganda putra bersama Sinyo Supit di ajang Asian Games 1982, Bangkok.

Sedangkan Sinyo sendiri berhasil mencatat prestasi besar saat merebut dua medali emas pada SEA Games 1981, tiga emas di SEA Games 1983 dan tiga emas SEA Games 1987. Diana sendiri tak mau ketinggalan dari sang suami, Empie, dalam mengukir prestasi. Dia meraih sukses pada SEA Games 1979 dengan satu medali emas, SEA Games 1981 (tiga emas) dan SEA Games 1983 (dua emas).

Selain untuk menempa diri, ketiga atlet itu mendapat tugas khusus dari Susilo untuk melakukan pembibitan atlet tenis meja andal lainnya yang mampu berbicara di dalam dan luar negeri. Empie dan Diana baru bisa berkonsentrasi penuh menjalankan tugas khusus itu setelah pensiun sebagai atlet pada 1985.

Ketelatenan Empie dan Diana dalam melatih atlet membuahkan hasil yang cukup menggembirakan dalam perkembangan olahraga tenis meja di Indonesia. Dua tahun menerjuni karir pelatih, Diana berhasil mengantarkan Rossy Sjceh Abu Bakar dalam mempersembahkan dua medali emas bagi Indonesia di ajang SEA Games 1987. Kemudian berlanjut pada SEA Games 1989 dengan dua emas, SEA Games 1991 (dua emas), SEA Games 1993 (empat emas) dan SEA Games 1995 (dua emas).

Ling Ling Agustin, atlet binaan Diana lainnya, juga membantu Tim Merah Putih dalam mendulang medali emas selama SEA Games 1989, dua perak SEA Games 1991, dan dua perak SEA Games 1993.

Hingga era 2000an, klub Tenis Meja ini masih melahirkan pemain tenis meja Nasional dan Internasional.

Wismilak dan Tenis Lapangan


Nama Wismilak dan tenis lapangan tidak bisa dipisahkan. Terutama saat Wismilak mulai mengelar Wismilak International pada 1994 silam yang kemudian menjadi cikal bakal event tenis terbesar di Asia Tenggara, bahkan tak kalah populer di kalangan para petenis wanita dunia.

Sepanjang 1994-1997, turnamen diadakan di Embong Sawo Sports Club, Surabaya, Jawa Timur. Petenis asal Jerman, Elena Wagner, merebut gelar juara perdana di musim 1994, sementara petenis Indonesia, Yayuk Basuki meraih juara di nomor ganda berpasangan dengan Romana Tedjakusuma.

Setelah tidak lagi disponsori Wismilak, turnamen ini disponsori Commonwealth Bank hingga kemudian sponsor tidak lagi berlanjut.

Dalam laporan tahunan Wismilak 2018, perusahaan rokok ini masih aktif mendukung tenis dengan memberikan  beasiswa secara berkala kepada atlet junior dari Bali, Blora, dan Jakarta.