Alasan Diprotes dan Sinopsi Film Kucumbu Tubuh Indahku Karya Garin Nugroho

Iklan Semua Halaman

Alasan Diprotes dan Sinopsi Film Kucumbu Tubuh Indahku Karya Garin Nugroho

Rabu, 24 April 2019
Aktualita.co - Sebuah film berjudul "Kucumbu Tubuh Indahku" karya sutradara Garin Nugroho  dan produser Ifa Isfansyah menuai protes luas di dunia maya melalui laman Change.org.

Dalam pantauan Aktualita ada 2 petisi yang telah dibuat. Satu petisi dibuat oleh Rakhmi Mashita berjudul Tolak penayangan film LGBT dengan judul “Kucumbu Tubuh Indahku” Sutradara Garin Nugroho  dan satu lagi petisi bertajuk Gawat ! Indonesia sudah mulai memproduksi film LGBT dengan judul “Kucumbu Tubuh Indahku” yang digalang oleh Budi Robantoro dan telah mendapatkan lebih dari 29 ribu penandatangan.

Seperti judul petisi tersebut, alasan menolak film ini karena dianggap mendukung LGBT.

Seperti apa film Kucumbu Tubuh Indahku?

Film ini merupakan film yang diproduksi tahun 2018 lalu. Sebelumnya, film ini tayang pada sejumlah negara dan memenangkan berbagai penghargaan pada festival film internasional.

Film ini ditayangkan perdana di Festival Film Internasional Venesia pada Agustus 2018 yang jadi tempat pemutaran perdana dunia.

Beberapa penghargaan yang diraih diantaranya Bisato D'oro Award Venice Independent Film Critic (Italia, 2018), Best Film pada Festival Des 3 Continents (Prancis, 2018), dan Cultural Diversity Award under The Patronage of UNESCO pada Asia Pasific Screen Awards (Australia, 2018).

Film ini akhirnya tayang di bioskop sejak 18 April 2019 lalu. Film dengan rating dewasa ini berdurasi selama 106 menit.

Sinopsis Film Kucumbu Tubuh Indahku


Rumah produksi Fourcolors seperti dikutip Antara menyebutkan jika ini merupakan film panjang ke-19 dari Garin Nugroho yang bercerita tentang seorang penari Lengger di sebuah desa kecil di Jawa bernama Juno.

Juno Kecil terpaksa harus hidup sendiri sejak ditinggal pergi oleh ayahnya. Di tengah kesendiriannya, Juno bergabung dengan sanggar tari Lengger. Sejak itu, Juno harus hidup berpindah-pindah tempat.

Seiring perjalanannya menjadi dewasa, Juno mendapat perhatian dan kasih sayang dari beberapa orang terdekat di sekelilingnya. Ada guru tarinya, bibinya yang seorang penjual ayam, pamannya yang seorang penjahit, seorang petinju, dan seorang Warok.

Semua pengalaman yang dilaluinya membuat Juno memiliki sebuah perjalanan hidup yang membawanya kepada pemahaman akan keindahan hidup.

Cerita dalam film ini sendiri diangkat dari kisah hidup seorang penari dan koreografer bernama Rianto. Rianto juga bermain dalam film tersebut sebagai Juno dewasa.

Selain itu, karakter Juno juga diperankan oleh dua aktor lain, yaitu Muhammad Khan sebagai Juno remaja dan Raditya Evandra sebagai Juno kecil. Selain kisah hidup Rianto, kisah kelompok- kelompok tari di Jawa juga menjadi inspirasi cerita dalam film ini.

Pemain lain yang terlibat di film ini diantaranya Sujiwo Tejo (Guru Lengger), Teuku Rifnu Wikana (Bupati), Randy Pangalila (Petinju), Whani Dharmawan (Warok), Endah Laras (Bibi Juno) dan Windarti (Guru Tari). Selain itu, musisi Mondo Gascaro menjadi pengisi soundtrack dan komposer musik dalam film ini.