Mengenal Smart Tunnel Pengendali Banjir yang Ditawarkan Kepada Jakarta

Iklan Semua Halaman

Mengenal Smart Tunnel Pengendali Banjir yang Ditawarkan Kepada Jakarta

Sabtu, 04 Januari 2020

Aktualita.co - Smart Tunnel atau yang biasa disebut sebagai Stormwater Management and Road Tunnel sempat ditawarkan kepada Jakarta sebagai solusi mengatasi banjir.

Walau demikian sejumlah negara telah menggunakan smart tunnel. Sebutlah misalnya Malaysia, Jepang dan sejumlah negara di Eropa dan Amerika.

Lalu seperti apa sistem tunnel pengendali banjir ini?

1. Dimulai Sejak 2014

Jakarta Integrated Tunnel telah dimulai sejak 2014 lalu ketika Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta. JIT sendiri mempunyai empat fungsi yakni pengendali banjir, jalan tol, penghasil listrik PLTMH, dan penyedia bahan baku air minum (long storage).

Proyek tersebut juga sudah dilakukan kajian dan studi kelayakan yang dilakukan oleh balitbang Kementerian PUPR dan konsultan lokal (Perentjana Djaya) dan konsultan luar negeri (Gezhoba China) dan Nippont Koei Jepang. Saat ini kelayakan proyek sedang direview oleh calon investor dari Sibernix dan E-Best Korea Selatan.

Anggaran Jakarta Integrated Tunnel senilai Rp. 40 triliun yang semuanya berasal dari swasta. Nantinya, JIT akan dibangun di bawah tanah dengan kedalaman lebih kurang 15 meter. Terdapat semacam terowongan dengan diameter 11 meter yang ada di bawah tanah itu. JIT akan terdiri atas dua tingkat terowongan.


JIT akan dibangun di dua rute yaitu rute Balekembang-Manggarai dan Ulujami-Tanah Abang. Panjang tunnel nanti mencapai 12 kilometer.

2. Telah Digunakan di Malaysia

Malaysia telah menggunakan smart tunnel sejak 2017 lalu. Dan menjadi tunnel terpanjang di Asia Tenggara sejauh 9,7 km.

Menghubungkan Sungai Klang di tengah kota dengan Sungai Kerayong di pinggiran kota Kuala Lumpur. Dengan sistem jelas, air yang menyebabkan banjir akan dialirkan ke Sungai Klang sebelum kemudian dialirkan kembali ke laut melalui Port Klang.

3. Juga Atasi Macet

Smart Tunnel terdiri dari 3 tingkat. Paling bawah untuk air dan 2 tingkat lainnya untuk jalan tol.

Saat banjir parah datang, tingkat kedua dari SMART Tunnel ini akan berfungsi untuk mengaliri air. Jika banjir yang terjadi semakin parah, tunnel di tingkat ketiga atau yang paling atas akan berubah menjadi saluran air. Dengan begini, proses untuk mengatasi banjir semakin cepat dilakukan. Tentu saja setelah menutup akses kendaraan terlebih dahulu.

4. Kontroversi

Ide Jakarta Deep Tunnel ini ditolak oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Alasannya air harusnya dimasukan ke dalam bumi, ke dalam tanah bukan dialirkan ke laut.

Hal lain dikemukakan Djoko Luknanto ahli  hidraulika komputasi UGM yang ditulisnya di laman staf UGM 2013 lalu.

Menurutnya  JDT sebagai sistem pengendalian banjir sama sekali tidak efektif, karena kemampuan tampungnya sangat kecil dibandingkan debit banjir yang harus dikelola. Selain itu dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk mengosongkan JDT dengan pompa untuk dapat digunakan menampung banjir berikutnya.