Trilogi Santri

Saturday, Oct 22, 2016 | 270 views

Oleh: Yudi Setiadi

logo-hari-santri-22-oktober

Tepat pada tanggal 22 Oktober tahun 2015 kemarin, presiden Joko Widodo telah mengesahkan Hari Santri Nasional (HSN). Hari tersebut dipersembahkan kepada sekelompok orang yang menyandang predikat santri.  Sekelompok orang yang memiliki keunikan tersendiri, mulai dari kehidupan yang dipandang oleh sebagian besar orang kumuh, hingga cara pengembangan keilmuan mereka yang memiliki corak keistimewaan tersendiri dan tidak dimiliki oleh kalangan lain.

Dalam hal ini, banyak keistimewaan yang dimiliki ole santri yang tentunya tidak dimiliki oleh kalangan lain. Salah satunya yaitu kuantitas maupun kualitas kecerdasannya. Santri dalam pengembangan kecerdasannya, mereka mampu menyeimbangkan tiga dimensi kecerdasan, diantaranya pertama, kecerdasan intektual (IQ), kedua, kecerdasan emosional (EQ) dan ketiga, Kecerdasan Spiritual (SQ).

Adapun Pembelajaran yang dikembangkan di kalangan santri, sangatlah ideal dalam menciptakan kualitas Insan kamil. Pembelajaran tersebut dapat mengembangkan kecerdasan Intelektual (IQ), Emosional (EQ) serta Spiritual (SQ). Hal ini disebabkan karena, visi dan misi santri sendiri adalah “Rahmatan lil ‘alamin” (Rahmat Untuk Semua), untuk membangun kehidupan dunia yang adil, makmur, damai, dan harmonis, dan diridhoi Allah.

Kecerdasaan intelektual (IQ), santri sering dituntut dengan deadline hafalan yang diberikan oleh ustadz-ustadz dan kyai-kyainya, selain itu, santri juga dituntut untuk memahami dan mempelajari kitab-kitab kuning (kitab-kitab klasik) yang jarang ditemukan di kalangan lain.

Dari kitab-kitab tersebut itulah, santri mempelajari secara komperenship tentang bahasa arab, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagian besar pakar sepakat, bahwa orang yang mampu menguasai lebih dari satu bahasa memiliki kecerdasan lebih, dibandingkan dengan orang yang hanya menguasai satu bahasa.

Selain kecerdasan intelektual (IQ), santri juga dapat mengembangkan kecerdasan emosional (EQ) secara natural. Kecerdasan emosional yang disepakati dalam hal ini yakni kecerdasan yang berorientasi kepada perasaan, dan erat hubungannya dengan interaksi sosial.

Santri mampu melakukan interaksi sosial dengan baik kepada masyarakat, terutama di kalangan desa maupun kota, kenapa bisa demikian?, karena santri menghabiskan waktu 24 jam bersama orang-orang sekaligus berinteraksi dengan mereka (Masyarakat).

Bahkan santri dipaksa, mau tidak mau- untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar, yakni masyarakat. Mereka sering terlibat dalam kerja bakti, tasyakuran dan kegiatan sosial lainnya. Hal inilah yang dapat meningkatkan kecerdasan emosinal santri dengan baik. Maka dengan begitu, santri memiliki wawasan, sekaligus dapat mengamalkan ilmuannya dengan baik kepada umat dan bangsa ini.

Terakhir, aspek kecerdasan spiritual, keberadaan aspek ini kemungkinan besar dapat dijamin pada diri santri. Kecerdasan ini diartikan sebagai kecerdasaan yang menuntut manusia agar dapat memaknai segala aktifitas.

Kecerdasan ini memang lekat dengan istilah santri. Santri diajarkan untuk dapat memaknai segala hal yang dia lakukan. Melihat lebih jauh arti perbuatannya. Memberi makna dan mempersembahkan semua yang dilakukan hanya untuk yang Maha Tinggi yakni Allah Swt.

Indonesia Harus Meniru Santri

Sebagai bangsa yang memiliki sumber daya alam (SDA), yang melimpah, seharusnya Indonesia mampu memaksimalkan anugerah Tuhan untuk kepentingan masyarakat. Namun dewasa ini sangatlah ironis, terjadi kesenjangan yang jauh, antara yang semestinya dan senyatanya. Tak sedikit masyarakat yang tidak dapat merasakan anugerah tersebut. Pada akhirnya, Anugerah tersebut hanya berupa fatamorgana yang tak dapat memuaskan dahaga.

Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Namun, jika dilihat kembali, sumber dari keterpurukan bangsa ini, yakni tidak sanggupnya memaksimalkan sumber daya alam. Serta kondisi pendidikan yang kurang tepat.

Pendidikan di Indonesia cenderung lebih mengutamakan kecerdasan intelektual saja, tanpa menanamkan kecerdasaan emosional dan kecerdasan spiritual. Padahal kecerdasan intelektual hanyalah salah satu kecerdasan yang terdapat dalam diri manusia.

Para pakar menyadari, bahwa kesukesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan otak dan daya pikir semata, namun lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Maka ketika kondisinya demikian, terdapat kesalahan dalam membangun Sumber Daya Manusia (SDM), serta dalam menerapkan sistem pendidikan nasional.

Itulahsebabnya, kenapa penerapan tiga dimensi kecerdasan sangat penting dalam sistem pendidikan bangsa, selain sebagai keharusan, kecerdasan tiga dimensi ini juga, sebagai solusi dalam membentuk karakter manusia yang ideal.

Membentuk Insan Kamil

Nampaknya pemerintah dan masyarakat harus sadar dengan keunggulan yang dimiliki santri. Keunggulan dalam pengembangan ketiga dimensi kecerdasan yang dimiliki kaum santri.

meniru pembelajaran santri, merupakan salah satu pilihan efektif, untuk menyelesaikan permasalahan bangsa, yang saat ini mulai rapuh. Hal ini mengingat penulis saat nyantri di salah satu pondok pesantren, pembelajaran santri memiliki kelebihan dan keistimewaan yang dapat diterapkan di Indonesia sebagaimana dijelasakan diatas.

Santri dibimbing untuk dapat menyeimbangkan ketiga kecerdasaan. Bukan hanya menuntut ilmu, santri juga mengamalkan semua ilmu yang didapat di pesantren. Lebih jauh, santri mampuh memaknai dan memberikan semua yang ia kerjakan kepada Tuhan alam semesta, Allah Swt. Hal ini dapat membentuk manusia menjadi insan kamilmukamal.

___________

Penulis Adalah, Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Komisariat Ushuluddin dan Filsafat Cabang Ciputat, yang saat ini belajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jurusan Tafsir Hadits, Fakultas Ushuluddin.

Like it? Share it!

Leave A Response