Foto: PresidenRI.go.id

Tim Inpres No. 1/2011 Berhasil Kembalian Uang Negara Rp. 2,5 Trilyun Dari Penyimpangan Pajak

Posted on
Foto: PresidenRI.go.id
Foto: PresidenRI.go.id

Aktualita.co – Tim Instruksi Presiden (Inpres) No 1/ 2011 tentang Percepatan Penyelesaian Kasus Hukum dan Penyimpangan Pajak yang diketuai oleh Wakil Presiden Boediono melaporkan hasil kerjanya kepada Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono pada Selasa, (14/10).

Inpres No, 1/2011 ditandatangani Presiden SBY pada 7 Januari 2011 dan lahir dari terkuaknya kasus yang melibatkan petugas pajak Gayus Tambunan dan perusahaan-perusahaan besar.  Wakil Presiden sesuai Inpres 1/2011, bertugas melakukan pengawasan, pemantauan, dan penilaian terhadap pelaksanaan Inpres ini. Monitoring pelaksanaan Inpres 1/2011 juga dilakukan oleh Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum yang setelah tugasnya berakhir dilanjutkan oleh Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4). Tim ini terdiri atas jajaran Polri, Kejagung, Kemenkumham, dan Kemenkeu.

Selama tiga setengah tahun, pelaksanaan Inpres ini sudah menghasilkan berbagai perbaikan yang jauh lebih luas daripada sekadar menangani kasus Gayus. Para pelaksana Inpres 1/2011 telah berhasil mengidentifikasi aset-aset  yang berhubungan dengan berbagai kasus penyimpangan penerimaan negara dalam jumlah yang  sangat besar. Aset-aset itu senilai Rp 4,574 triliun,  US$ 718.868, dan SIN$ 9,980 juta serta puluhan aset properti lainnya yang belum dapat ditentukan nilainya saat ini.

Dari jumlah tersebut, yang telah berhasil dikembalikan ke kas negara senilai Rp. 2,596 triliun. Ada pembayaran deposit untuk proses banding Pajak sebesar Rp. 953 miliar dan aset-aset lainnya yang sudah disita. Terdapat beberapa eksekusi aset yang masih menunggu proses hukum hingga berkekuatan hukum tetap, yakni senilai Rp. 2,525 triliun dan beberapa properti lainnya. Tentu saja, seiring dengan masih berjalannya proses hukum atas sejumlah perkara, jumlah tersebut dipastikan masih bertambah.

Untuk kasus Gayus Tambunan sendiri negara berhasil menyita uang tunai senilai Rp 74 miliar, 31 batang logam mulia @100 gram, 1 unit rumah, 1 unit apartemen, dan 2 mobil. Secara keseluruhan untuk berbagai kasus yang melibatkannya, dari penyuapan aparat negara hingga pemalsuan paspor, Gayus mendapat hukuman 31 tahun pidana penjara.

Pelaksanaan Inpres 1/2011 hingga Oktober 2014 secara keseluruhan mengkoordinasikan 11 kasus-kasus perpajakan dan pelanggaran hukum lainnya yang berkaitan dengan penyelewengan penerimaan negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *