Sejarah Masjid Keramat Luar Batang Penjaringan Jakarta

Wednesday, Mar 30, 2016 | 2576 views

Aktualita.co – Salah satu bangunan masjid tertua yang ada di Jakarta adalah Masjid Keramat Luar Batang. Masjid ini terletak di Penjaringan, Jakarta Utara.  Menurut Humas Masjid Keramat Luar Batang Yudo Sukmono sejarah masjid tersebut bermula dari bagunan rumah ibadah berbentuk musholla atau langgar yang diberi nama An-Nur yang didirikan pada 1739. Lalu, Mushalla tersebut kemudian dibangun menjadi masjid pada 1756.

Penamaan Masjid Luar Batang terkait erat dengan nama Al-Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus yang merupakan ulama asal Yaman. Habib Husein lahir di Migrab, dekat Hazam, Hadramaut, dan diperkirakan datang di Betawi sekitar awal abad ke-18. Sebelum ke Batavia, Habib Husein sebelumnya mengunjungi India.

Daerah pasar Ikan Jakarta dulunya merupakan benteng pertahanan Belanda. Maklum daerah ini termasuk strategis karena menghadap langsung ke pelabuhan Sunda Kelapa. Karena itu daerah ini tidak bisa dikunjungi hingga kemudian Habib Husein dan rombongannya yang terdampar diusir keluar teluk Jakarta. Tetapi kemudian terdampar kembali dan disembunyikan oleh orang Betawi yang bernama Haji Abdul Kadir yang kelak menjadi muridnya. Karena itu makam Haji Abdul Kadir terletak di samping makam Habib Husein.

Asal Mula Nama Masjid Keramat Luar Batang

ada masjid terdapat prasasti yang tertulis Habib husein bin abu bakar alidrus wafat pada hari kamis 27 Ramadhan 1169 H atau bertepatan dengan tanggal 24 JUni 1756. Prasasti tersebut menurut penulis dari Belanda bernama LWV.Vaan Berg di buat pada tahun 1919.

Prasasti pada Masjid yang tertulis Habib Husein bin abu bakar alidrus wafat pada hari kamis 27 Ramadhan 1169 H atau bertepatan dengan tanggal 24 JUni 1756. Prasasti tersebut menurut penulis dari Belanda bernama LWV.Vaan Berg di buat pada tahun 1919.

Menurut cerita yang beredar beliau wafat pada 24 Juni 1756. Asal mula masjid yang mampu menampung 2000 jamaah tersebut dikenal menjadi Masjid Keramat Luar Batang saat meninggalnya sang habib, jenazah Habib Husein yang diusung menggunakan kurung batang, rencananya dimakamkan di Yaman. Tapi ada juga yang mengusulkan jenazahnya dikebumikan di Tanah Abang.

“Namun setelah sampai di pemakaman, yang ada cuma kurung batangnya. Sedangkan jenazahnya tetap di rumah Habib Husein,” urai Yudo Sukmono. Karena itu, jenazah Habib pun dimakamkan di dekat Masjid An-Nur.

“Sejak saat itulah nama Musala An-Nur lebih dikenal sebagai Masjid Luar Batang. Makamnya menjadi Keramat Luar Batang.” Kampung di sekitar Pasar Ikan itu pun diberi nama Kampung Luar Batang.

Pada zaman penjajahan Belanda, bangunan masjid Keramat Luar Batang tampak seperti gudang. Untuk menandai bahwa bangunan tersebut merupakan tempat ibadah, di halaman masjid dibangun bangunan seperti mercusuar dengan puncak menara serupa dengan kubah.

Arsitektur masjid itu bergaya campuran Arab-India-Cina. Pada awal 2000, pemerintah DKI menetapkan masjid itu sebagai bangunan cagar budaya. Bangunannya lalu direnovasi menjadi bergaya Turki-Jawa. (sumber: ahlussunahwaljamaah.wordpress.com/Tempo).

Like it? Share it!

Leave A Response