Sejarah Kalijodo : Dari Kali Angke Hingga Kawasan Prostitusi dan Perjudian

Saturday, Feb 13, 2016 | 13196 views

Aktualita.co – Jauh sebelum kalijodo biasa juga ditulis (Kali Jodo) dikenal seperti saat ini, kawasan ini sudah ramai sekitar tahun 1950an. Hanya saja saat itu namanya masih Kali Angke. Asal muasal berubahnya nama Kali Angke menjadi Kalijodo tidak bisa dilepaskan dari tradisi peh cun dan pesta air yang sering diselenggarakan di kawasan tersebut.

Kalijodo sendiri berada di Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.  Kalijodo terletak tidak jauh dari BW Hotel di Grogol dan berada di sepanjang sungai Ciliwung.  Akses menuju kalijodo bisa ditempuh dengan mengikuti Jalan Pesing.

Wacana untuk menggusur Kalijodo sebenarnya bukan hal yang baru. Ketika Jokowi menjabat sebagai Gubernur Jakarta 2014 silam, ia pernah blusukan bersama wakilnya, Ahok ke kawasan ini.  Saat itu, Jokowi dan Ahok yang mendadak blusukan berdua tidak turun dari mobil Toyota Hiace B 7059 PPA berpelat merah yang ditumpanginya.

Asal Muasal Nama Kalijodo

“Dulu disebut peh cun di Kali Angke, belum Kalijodo. Begitu terkenal, maka dinamailah Kalijodo, karena orang dapat jodoh di situ,” ungkap Budayawan Betawi Ridwan Saidi seperti dikutip Kompas.com.

Dalam tradisi China, Peh Cun adalah tradisi yang diselenggarakan setiap hari 100 penanggalan imlek. Salah satu tradisi dalam perayaan Peh Cun adalah pesta air. Pesta air itu diikuti oleh muda-mudi laki-laki dan perempuan yang sama-sama menaiki perahu melintasi Kali Angke.

Ridwan Saidi mengenang, masa itu setiap perahu akan berisi tiga sampai empat orang laki-laki atau perempuan. Di perahu tersebut, si laki-laki akan melihat ke perahu yang berisi perempuan.

Jika laki-laki senang dengan perempuan yang ada di perahu lainnya ia akan melempar kue yang bernama tiong cu pia. Kue ini terbuat dari campuran terigu yang di dalamnya ada kacang hijau.

Bagi perempuan yang ditaksir jika ia senang ia akan melemparkan kue sejenis ke arah laki-laki yang menyukainya. Dari sinilah kemudian kawasan ini berubah menjadi Kalijodo karena menjadi kawasan untuk mencari jodoh.

Berbeda dengan saat ini, di masa itu Kali Angke masih jernih. Itulah mengapa walau tradisi ini dilakukan oleh etnis Tionghoa, tetapi masyarakat umum tetap memadati Kali Angke untuk melihat perayaan tersebut.

Tradisi Peh Cun dan Imlek sendiri tidak lagi dirayakan setelah tahun 1958 setelah pemerintah mengeluarkan aturan tentang hal tersebut. Aturan tersebut dibuat oleh Wali Kota Jakarta Sudiro yang menjabat diera 1953-1960.  Walikota masa itu, jabatannya setara dengan gubernur di masa kini.

Kalijodo menjadi Kawasan Prostitusi

Salah satu lokasi prostitusi yang telah ada di Jakarta sejak abad ke-18 adalah Kawasan Kalijodo. Salah satu buku yang menggunakan kawasan lokalisasi ini sebagai setting adalah Ca-Bau-Kan yang ditulis oleh Remy Silado. Bahkan pada bab II, Remy menuliskan bab khusus tentang Kalijodo.

Berbeda dengan Ridwan Saidi yang menceritakan asal muasal nama nama Kalijodo berdasarkan pesta air pada tradisi Peh Cun, Remy Silado dalam novelnya menceritakan jika ca-bau-kan lah yang kemudian melahirkan istilah ini.

Ca-Bau-Kan sendiri artinya perempuan. Tetapi mengalami penyempitan makna menjadi perempuan pribumi yang diperbini Tionghoa dalam kedudukan yang tidak selalu memperdulikan hukum Hindia Belanda. Dan kemudian menjadi Ca-bo untuk menyebut istilah pelacur.

“Kali jodo selama berabad telah menjadi tempat paling hiruk pikuk di Jakarta. Di sini, sejak dulu terlestari kebiasaan imigran Tionghoa menemukan jodoh, bukan untuk hidup bersama selamanya, tetap sekadar berhibur diri sambil menikmati nyanyian klasik Tionghoa, dinyanyikan para ca-bau-kan,” tulis Remy Silado.

“Para tauke-tauke yang mengelola ca-bau-kan akan memberi mereka kostum model opera berbahan sutera dengan warna-warni menyolok disertai bordir-bordir yang bermutu. Mereka berada di perahu-perahu yang dipasang lampion Tiongkok, bergerak pelan-pelan di kali itu,” demikian setting novel Ca-Bau-Kan.

Di perahu itu para Ca-bau-kan menawarkan jasanya dengan menyanyikan lagu-lagu bersyair asmara dalam bahasa Cia-im. Walaupun ca-bau-kan ada yang perempuan tionghoa totok, tetapi kebanyakan asli pribumi yang mahir menyanyikan lagu Tionghoa walaupun tidak mengerti arti nyanyiannya.

Walaupun demikian, pengunjung kalijodo bukan hanya dari etnis Tionghoa tetapi juga pelbagai suku yang mencari hiburan di situ.

Walaupun pada awalnya, kegiatan prostitusi tersebut dilakukan diatas perahu yang berlayar dari kwitang ke Kalijodo, lambat-laun berubah menjadi rumah-rumah bordir.

Asal Mula Kedatangan Orang Sulawesi Di Kalijodo

Dalam buku Geger Kalijodo yang ditulis oleh Krishna Murti disebutkan bahwa sebelumnya ada lima 5 kelompok penguasa yang menguasai Kalijodo. Tetapi setelah pecahnya kerusuhan antar kelompok pada tahun 2002 lalu, kini hanya tersisa dua kelompol besar yaitu kelompok Daeng Azis (bugis) dan Mandar.

Cerita kedatangan orang-orang Sulawesi ke kalijodo sendiri dimulai sejak tahun 1965. Saat itu mereka datang untuk bekerja di pabrik baja dan bihun yang ada di Kalijodo di tahun 1965.

Lokasi kali jodo yang ada saat ini, sebenarnya bukanlah lokasi semula melainkan berada di seberangnya. Tetapi karena digusur pada tahun 2000an akhirnya mereka membeli rumah-rumah penduduk yang ada diseberangnya dan kini terus berkembang menjadi kawasan kali jodo yang dikenal sekarang.

Suasana Kalijodo

Jika ingin melihat suasana Kalijodo salah satu video youtube sempat mempublikasikan kawasan tersebut pada tahun 2014 lalu.

Like it? Share it!

Leave A Response