SBY : Menyalahkah Orang Lain Tak Akan Menyelesaikan Persoalan

Posted on

Aktualita.co – Gejolak ekonomi yang terjadi beberapa hari belakangan turut membuat nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika mendekati Rp. 13.000. Nilai ini bahkan disebut-sebut sebagai nilai yang terendah sejak krisis keuangan yang melanda Indonesia dan kawasan Asia 1998 lalu atau terendah dalam 16 tahun terakhir.

Kondisi ini juga mendapatkan perhatian dari mantan presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). Melalui akun media sosialnya pada Kamis (18/12), dirinya menyampaikan bahwa terus memantau hal ini termasuk pernyataan pemerintah.

Salah satu yang paling disorot dari tulisan SBY di sosial media adalah pernyataan seorang pejabat pemerintah jg menuding bhw semua ini akibat kebijakan pemerintahan SBY yg salah.

“Atas tudingan ini, sy minta kpd siapapun yg bersama saya 10 thn di pemerintahan harap bersabar. Tak perlu ikut menuding kesana kemari,” himbau SBY melalui Twitter dan juga Facebook dirinya.

“Menyalahkah orang lain tak akan menyelesaikan persoalan. Itulah pelajaran yg saya petik selama dulu memimpin negeri ini,” ungkapnya.

Tak lupa, SBY juga mengenang ketika pemerintahannya dahulu menghadapi gejolak minyak dunia tahun 2005 & 2008 serta mengatasi krisis global tahun 2008 & 2009 bersama pada Menteri, Gubernur, Ekonom, Pebisnis & lain-lain. “Atas keputusan, kebijakan & tindakan yg kita lakukan – tanpa menyalahkan orang lain – Alhamdulillah kita bisa selamatkan ekonomi kita,” kenang SBY.

“Prinsip kepemimpinan yg saya anut – pantang menyalahkan baik pendahulu maupun pengganti saya. Tabiat menyalahkan tak baik & tak arif. Saya jg tak suka menyalahkan pendahulu. Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur & Ibu Megawati, semua ingin berbuat yg terbaik,” tegas mantan Presiden 2 periode ini.

SBYNomics

Lewat twitternya tersebut, SBY menyebut dirinya akan berbagai pengalaman ketika menghadapi krisis yang disebutnya sebagai SBYNomics.  “Perihal tantangan yg tidak ringan terhadap ekonomi Indonesia, telah saya sampaikan setahun yg lalu, tepatnya Oktober 2013, ” tulis SBY.

Sebagai Ketua APEC tahun 2013, saya sampaikan bahwa semua “emerging economies“, termasuk Indonesia, menghadapi tantangan yg berat.  Tantangan itu antara lain berupa pelambatan pertumbuhan, menurunnya nilai tukar, jatuhnya harga komoditas pertanian & mineral.

Menurut SBY era dolar murah sudah usai. Nilai tukar rupiah tahun 2014 tembus Rp 12.000 per 1 dolar AS. Itulah sebabnya mengapa dirinya tidak pernah menjanjikan rupiah akan menguat bahkan di bawah Rp 10.000 per dolar AS, karena mengetahui situasi ekonomi dunia.

Nilai tukar rupiah kita saat ini ditentukan oleh faktor “supply-demand“, kebijakan moneter bank sentral AS & juga spekulasi pasar. Tekanan ekonomi ini ada yg sifatnya global (akibat kebijakan Bank Sentral AS, turunnya pertumbuhan Tiongkok dan stagnasi ekonomi Eropa). Ada juga yang bersifat nasional, misalnya adanya defisit perdagangan dan anjloknya nilai ekspor kelapa sawit, batubara & lain-lain.

Selain itu, menurut SBY ekonomi yg kurang cerah di Tiongkok, Jepang dan Eropa bagaimanapun akan menurunkan peluang ekspor dan investasi di Indonesia.

“Itulah sebabnya selaku Presiden saya tetapkan pertumbuhan yg realistik – sekitar 5-6 %. Saya tahu situasi global, kawasan & nasional. Saya tidak memberikan angin surga – ekonomi kita akan tumbuh tinggi hingga 7 %. Semua negara menurunkan angka pertumbuhannya,” ungkap SBY.

SBY pun memberikan contoh pertumbuhan ekonomi Tiongkok. “Saat hadiri World Chinese Economic Forum di Chongqing Tiongkok 2 minggu lalu, saya diberitahu pertumbuhan ekonomi Tiongkok hanya 7 %. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok 7 % (biasanya 8-10 %) berdampak negatif pada perdagangan & investasi ke negara lain, tmsk Indonesia, ” jelas mantan Presiden SBY.

“Saya menyadari porsi sumber pertumbuhan (growth) dari neto ekspor-impor mengalami penurunan, karenanya menjaga investasi penting. Namun, situasi perekonomian global tetap menekan investasi di Indonesia, kendati iklim, perizinan & infrastruktur terus kita perbaiki.  Karenanya, sumber pertumbuhan yg sungguh kita jaga adalah konsumsi rumah tangga & pembelanjaan pemerintah. Hasilnya lumayan,” lanjut SBY.

SBY juga mengungkapkan pandangannya tentang subsidi BBM. “Saya setuju bahwa subsidi yg tdk tepat harus kita pangkas, Karenanya harga BBM saya naikkan th 2013, jg tarif listrik & gas di th 2014. Penghematan anggaran juga kami lakukan dlm APBNP 2014 (sebanyak RP 43 triliun), tetapi pembelanjaan pemerintah tetap penting. Dikala krisis, konsumsi pemerintah (government spending) tetap penting, agar “demand” tetap terjaga & sektor riil tdk makin menurun,” urai SBY.

“Agar daya beli rakyat, khususnya keluarga miskin tetap terjaga, kami berikan berbagai bantuan langsung agar bisa cukupi kebutuhannya. Ketika terjadi kenaikan harga-harga, maka secara moral, sosial & ekonomi, pemerintah wajib membantu golongan miskin & tidak mampu.  Kebijakan subsidi memang tidak disukai Neolib & ekonomi yg kapitalistik, tetapi bagi saya tetap diperlukan. Ini soal keadilan sosial. Dengan demikian, sektor riil tetap bergerak & tidak perlu ada PHK, karena barang & jasa yg dihasilkan perusahaan tetap dibeli rakyat.”

Hal-hal tersebutlah yang dilakukan oleh SBY dimasa pemerintahannya. “Meskipun tidak sempurna tetapi hasilnya nyata & ada. Pertumbuhan ekonomi kita nomor 2 di antara negara-negara anggota G-20,” tulisnya.

Hal lainnya yang diungkapkan SBY adalah pembangunan infrastruktur yang dialirkan trilyunan dana melalui MP3EI. “Ekspansi ekonomi yang mengakibatkan kebutuhan sumber pendanaan asing & dolar AS juga kita batasi, agar rupiah kita tak makin tertekan. Sektor riil & ekonomi mikro penting, tetapi tidak boleh mengabaikan ekonomi makro yg menjaga stabilitas & kesehatan ekonomi nasional,”  urainya.

Diakhir penjelasannya, SBY tetap menyampaikan optimismenya terhadap pemerintahan Jokowi- JK. “Presiden Jokowi & pemerintahannya akan bisa mengatasi tantangan ekonomi di tahun-tahun sulit ini. Bagaimanapun ekonomi Indonesia jangka panjang tetap cerah. Peluang meningkatnya pertumbuhan, investasi & perdagangan juga kuat,” tulisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *