Program PPL Perlu Ada Integrasi Praktikan, Guru Pamong dan Dosen

Thursday, Feb 11, 2016 | 1130 views

Aktualita.co – Hubungan antara mahasiswa praktikan, guru pamong dan dosen pembimbing lapangan (DPL) perlu diintegrasikan untuk meningkatkan kualitas calon guru selama menjalani Program Pengenalan Lapangan (PPL). Demikian terungkap dalam Pertemuan Nasional Finalisasi Materi Program Pengenalan Lapangan (PPL) Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang dihadiri kepala PPL dan perwakilan dosen LPTK mitra USAID PRIORITAS di Jakarta, Rabu (11/2/2016).

program PPL

Dalam pertemuan tersebut terungkap bahwa koordinasi dan integrasi antara sekolah dan LPTK perlu ditingkatkan. Hal ini dapat dilakukan dengan adanya sinergi antara dosen pembimbing lapangan, guru pamong dan mahasiswa praktikan PPL.

Banyak ditemukan di lapangan para mahasiswa praktikan yang kurang disiplin dan penguasaan materi belum memadai. Di sisi lain guru pamong yang seharusnya berfungsi membimbing mahasiswa masih perlu ditingkatkan kapasitasnya. Bahkan ada kasus di mana mahasiswa praktikan PPL dimintai tolong untuk membuatkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) oleh guru pamong. DPL juga belum memberikan bimbingan yang terstruktur dan intensif.

Dalam pertemuan tersebut, Dian Ekawati dosen UIN Bandung, peserta University Connect USAID yang ikut dalam program short course 2 bulan di Michigan State University untuk mengidentifikasi praktik-praktik yang baik dalam menyiapkan pendidikan calon guru yang berkualitas, memaparkan bahwa integrasi dan koordinasi antara DPL, guru pamong dan mahasiswa praktikan PPL bisa dilakukan dengan cara conference, yaitu duduk bersama membahas perkembangan mahasiswa praktikan selama proses PPL.

Lynne Hill, Penasihat Pembelajaran USAID PRIORITAS, menyatakan bahwa melalui kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas PPL di LPTK. Materi yang dikembangkan bisa memberikan kontribusi pada panduan PPL yang sudah dimiliki oleh tiap-tiap LPTK.

Dr. Hendra Suryanto, Kasi Kurikulum Pendidikan Vokasi dan Profesi Kemristekdikti, menyatakan apresiasi terhadap kegiatan USAID PRIORITAS. Dia sudah mengikuti beberapa rangkaian kegiatan USAID PRIORITAS dan menilai kegiatan tersebut sangat bermanfaat untuk peningkatan kualitas LPTK dalam rangka mempersiapkan calon guru.

Alphian Sahruddin, guru pamong SDN Kompleks IKIP I Makassar, mengungkapkan bahwa kegiatan ini telah menambah wawasan mengenai kemitraan LPTK dan sekolah dalam hal pembimbingan mahasiswa calon guru.

“Banyak hal baru yang sudah dilaksanakan tetapi masih terasa kurang dan pelatihan ini mendapatkan update terbaru mengenai peran sebagai guru pamong yang bukan hanya sekadar memberikan penilaian tetapi juga membimbing mahasiswa calon guru menjadi guru professional,” jelas Alphian.

Prof. Dr. Ani Rusilowati, dosen pembimbing lapangan dari Universitas Negeri Semarang, menyatakan bahwa kegiatan USAID PRIORITAS memberikan masukan untuk pelaksanaan conference ketika menetapkan nilai mahasiswa praktikan.

Conference adalah penentuan nilai yang dilakukan guru pamong dan dosen kepada praktikan, tetapi disampaikan terbuka. Hal ini membuat mahasiswa melakukan refleksi mengenai kemampuan dia dan praktikan juga bisa mendapatkan masukan. Perlu bangun kultur keterbukaan dan objektifitas,” demikian ungkap Ani.

Prof. Dr. Muchlas Samani, pakar pendidikan, menyampaikan bahwa kegiatan USAID PRIORITAS berusaha membantu LPTK agar PPL bisa berjalan dengan baik. Dia menilai mahasiswa praktikan, guru pamong dan DPL perlu menjadi satu kesatuan dan membangun komunikasi sinergis aerentara LPTK sebagai penghasil guru dan sekolah sebagai pengguna.

“LPTK perlu punya partner sekolah yang tetap, yang menjadi bagian penyiapan calon guru. Sekolah perlu memahami bahwa kehadiran PPL adalah sebagai pengganti mereka di masa depan,” kata Muchlas.

Prof. Dr. Luthfiyah Nurlaila MPd, Direktur Pendidikan Profesi Guru Universitas Negeri Surabaya, menyatakan bahwa kegiatan USAID PRIORITAS ini bermanfaat untuk meningkatkan sinergi antara mahasiswa LPTK.

“Tiap LPTK sudah punya pedoman yang jelas, yang harus digunakan sebagai seharusnya, dan perlu ada pemantauan penggunaan pedoman. Perlu ada diskusi intensif antara dosen pembimbing, guru pamong dan mahasiswa praktikan. Seharusnya DPL perlu sering bertemu guru pamong dan praktikan dan membahas kinerja praktikan dan support apa yang bisa diberikan,” kata Luthfiyah.

Sementara itu Dr. Nensilianti, Dosen Bahasa Indonesia UNM menyatakan bahwa dengan adanya pertemuan intensif dalam bentuk conference, mahasiswa praktikan yang sedang belajar menjadi guru akan memiliki peluang peningkatan kapasitas yang lebih besar. “Kita perlu mengintesifkan pertemuan antara dosen LPTK, guru dan mahasiswa praktikan, agar guru-guru ke depan, selain memiliki kapasitas yang lebih baik, juga benar-benar mengetahui kondisi sekolah beserta tantangan-tantangannya dan memiliki wawasan dan pandangan bagaimana ikut mengatasinya, “ ujarnya. (PR)

Like it? Share it!

Leave A Response