Persentase Jumlah Pemeluk Agama Islam di Indonesia Kini 85%

Sunday, Jan 10, 2016 | 4005 views

Aktutalita.co –  Kondisi perkembangan Islam di Indoensia kini berbanding terbalik dengan fenomena yang terjadi di belahan dunia. Jika umat Islam dunia jumlahnya terus meningkat, justru umat Islam di Indonsia jumlahnya terus menurun.

refleksi perjalanan kaum muslimin
“Umat Islam (di Indonesia) dari 95 persen menjadi 85 persen, ada anomali di dalam pusat Islam di Nusantara,” ujar Ketua Yayasan Rumah Peneleh Aji Dedi Mulawarman dalam diskusi bertajuk ‘Refleksi Perjalanan Politik Kaum Muslimin di Indonesia’ yang berlangsung di Jakarta pada Sabtu (9/1) seperti dikutip Republika.

Aji pun memberikan contoh dari fenomena tersebut di bidang politik yaitu terjadinya trend suara politik umat Islam cenderung menurun. Lalu apa yang menyebabkan ini semua?

Aji Dedi Mulawarman mensinyalir da agenda liberalisme, individualisme, deislamisasi, dan depolitisasi yang membuat umat semakin tersisih. Salah satu contoh yang disebutkan Aji adalah ketika Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan membesar, ada kekuatan sistematis yang menghancurkannya. Adapun, Partai Bulan Bintang (PBB) tidak memiliki struktur dan pengaderan yang masif hingga tidak bisa berkembang.

Tak lupa, Aji memberikan solusi untuk mengatasi masalah ini yaitu dengan melakukan konsolidasi sejak saat ini.

“Tahun 2024, umat Islam di Indonesia sebagai simbol umat Islam dunia akan seperti apa? Angka 24 menjadi penting dalam upaya konsolidasi umat agar tidak menjadi buih,” kata Aji.

Mengapa Aji menyebutkan tahun 2024? Hal ini karena keyakinannya akan lahirnya pembaharu setiap 100 tahun. Ajipun memberikan data, terkait hal ini Rasulullah lahir tahun 624, Yazid 724, Al Ma’mun 824, Sabrang Lor dan Trenggono 1524, Diponegoro 1824, dan Tjokroaminoto 1924. “Siklus 100 tahun, setiap perubahan selalu terjadi konsolidasi umat.”

Islam Menjadi Tuan Rumah di Indonesia

Senada dengan paparannya, Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) usril Ihza Mahendra mengatakan, harus diakui umat Islam seolah menjadi tamu di negeri sendiri. Padahal, kata dia, wakil presiden pertama RI, Moh Hatta, telah melarang orang timur asing menjadi presiden dan memiliki tanah di Indonesia. “Sebab mereka tidak ikut berjuang, karena masa penjajahan Belanda, Jepang mereka membantu,” ujar Yusril.

Yusril pun memberikan data mencengangkan yaitu sebanyak 74 persen tanah di Indonesia dimiliki korporasi besar, seperti Ciputra dan Podomoro yang mereka juga menguasai perkebunan. “Ini berbeda dengan apa yang diinginkan Moh hatta, kalau tanah ini tidak boleh dimiliki timur asing,” kata mantan menteri sekretaris negara tersebut.

Like it? Share it!

Leave A Response