Penyebab Tutupnya Pabrik Panasonic dan Toshiba Di Indonesia Menurut Presiden Buruh KSPI

Wednesday, Feb 3, 2016 | 3107 views

Aktualita.co – Dua pabrik elektronik di Indonesia, yaitu PT Panasonic Lighting di Cikarang, Jawa Barat, dan Pasuruan, Jawa Timur, serta PT Toshiba Indonesia di Cikarang telah mengumumkan rencana penutupan usaha mereka di Indonesia. Rencananya perusahaan akan resmi beroperasi pada Maret 2016 mendatang.

Said Iqbal

 

Akibat dari penutupan pabrik tersebut, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mencatat akan terdapat sekitar 2.500 pekerja yang akan di PHK.

“Sekitar 2.500 pekerja akan di-PHK,” ujar Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal dalam konferensi pers di Hotel Mega Proklamasi, Jakarta, Selasa (2/1/2016) seperti dikutip Kompas.com.

Sebenarnya tidak hanya dua pabrik ini yang ditutup tetapi, pabrik elektronik lainnya yaitu PT Samoin dan PT Starlink yang merupakan perusahaan Korea Selatan juga telah mengumumkan penutupan pabrik mereka di Indonesia.

Tentu saja, Said Iqbal menyayangkan penutupan pabrik-pabrik tersebut karena menurutnya memberikan sinyal negatif terhadap investor asing yang akan datang ke Indonesia. Selain itu, yang paling buruk menurut Said adalah lantaran Kementerian Perindustrian tidak mengetahui penutupan pabrik ini.

Sepinya pasar dan penurunan daya beli dianggap sebagai faktor yang menyebabkan lesunya industri elektronik ini disamping melambatnya pasar global.

Menurut Said Iqbal PP Nomor 78 Tahun 2015 mengenai pengendalian upah terbukti menurunkan daya beli masyarakat karena buruh pabrik merupakan pasar utama dari industri padat modal, seperti industri otomotif dan sebagainya. Dengan adanya pengendalian upah, daya beli menjadi turun sehingga tingkat konsumsi masyarakat pun menjadi lemah.

Faktor lain yang disebut Said Iqbal adalah kegagalan paket kebijakan pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla di tingkat implementasi karena justru banyak perusahaan yang tutup. Faktor ketiga, menurut Said Iqbal, adalah retorika paket kebijakan hanya untuk menyenangkan investor. Padahal, kenyataannya investor memilih wait and see untuk masuk ke Indonesia lantaran banyak yang hengkang.

Like it? Share it!

Leave A Response