Merangkai Konsep Pendidikan Islam Guna Menjawab Masalah Pendidikan di Aceh

Saturday, Jan 2, 2016 | 1857 views

Oleh : Syamsul Bahri A. Ma, SPd.I
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Konsentrasi Pendidikan Islam IAIN Ar-Raniry,  Banda Aceh/saat ini mengajar di Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa Aceh Besar.

pendidikan islam

Permasalahan mengenai mutu pendidikan di Negera kita (khususnya untuk Aceh) kerap mengundang beragam pertanyaan yang perlu ada jawaban dan solusi praktis, terutama dari pakar pendidikan. Curahan pemikiran berbentuk konsep dan teori demi perubahan untuk ditranformasikan ke dalam kurikulum pendidikan telah mengalir bagai air sungai deras yang membawa muatan dan material kepada samudera. Banyak konsep dan teori yang ditawarkan  yang terkadang juga menyibukkan para stake holdernya pendidikan, yakni dalam merumuskan hal pertama sebagai prioritas untuk diterapkan. Alhasil semuanya bisa menjadi amburadul, improporsional dan tidak konsekuen.

Analisis dan antitesis yang bermunculan juga belum mampu menjawab permasalahan pendidikan yang dinilai sudah sangat komplek. Kalau kita duduk hari ini merenung apa yang menjadi pokok permasalahan utama,  kemudian mencari langkah solutif permanensial, penulis yakin tidak mampu kita lakukan dalam jangka waktu singkat. Bahkan kita cenderung bersikap pesimistik dan terus berpikir dan berpikir serta berpikir lagi.

Rasanya kompleksitas problematika selalu saja hadir dalam wajah yang berbeda dan belum ada penyelesaian yang jitu yang bisa diterapkan secara aplikatif dalam wadah kurikulum. Permasalahan-permasalahan itu pun bukan di dramatisir dan dipolitisir oleh oknum tertentu sehingga terkesan menyudutkan para pelaksana pendidikan itu sendiri, tetapi realistisnya semua kita sudah terlibat menyaksikannya khususnya para pakar pendidikan yang menjadi oknum pertama penyebabnya.

Sepertinya sudah dmaklumi dan diketahui kategori-kategori permasalahan dunia pendidikan kita (Aceh), sehingga tidak perlu diurutkan dengan detail di sini. Namun, kiranya perlu disebutkan saja secara garis besar tentang permasalahan yang kita hadapi dan penyelesaian yang telah dilakukan. Misal, sertifikasi guru dinilai belum mampu memberi kontribusi konkrit untuk mendongkrak kualitas pendidikan, di samping dana yang dikucurkan untuknya lumayan besar, dana pendidikan yang bersumber dari APBA dan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)  juga tidak realiable terhadap masalah yang ditimbulkan sehingga terkesan sia-sia belaka, serta perubahan-perubahan kurikulum dari masa ke masa (CBSA, KBK-KTSP dan Kurikulum Integrated-tematik tahun ini) juga dinilai hanya sebagai solusi temporal yang berarti tidak mampu juga menaungi dan menyelesaikan kualitas pendidikan yang setiap tahun bukan bertambah maju.

Permasalahan lama masih diperdebatkan yaitu tentang dikotomi pendidikan dan cabarannya, aspek domain pendidikan dan tujuan pembelajaran yang statis dan stagnasi, desentralisasi pendidikan yang belum sempurna aplikasinya di lapangan dan yang terakhir permasalahan Ujian Akhir Nasional (UAN).

Prospek yang ditempuh untuk mereafirmasi kedudukan kurikulum belum memuaskan dewasa ini. Bahkan causalitas dari permasalahan itu kian bercabang-cabang dan tumbuh subur karena tidak dibarengi dengan konsep aplikatif yang jelas dan konsisten. Namun di sisi hal tersebut kita patut berpikir futuristik bahwa kita mampu menyelesaikan semua permasalahan-permasalahan itu.

 

Kurikulum Integral Holistik

Integral Holistik Pendidikan (IHP) bukanlah makanan baru dalam dunia pendidikan. Kita sudah lama mengetahuinya dan banyak buku telah diterbitkan tentang tema itu. Disebutkan oleh Ahmad Sudrajat (2008) bahwa Tujuan pendidikan holistik adalah membantu mengembangkan potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demokratis dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pendidikan holistik, peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesuai dengan dirinya, memperoleh kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya. Intinya pembelajaran Integral holistik sebagai upaya memadukan pengalaman peserta didik sebagai subjektif untuk mendongkrak kemampuan (bakat) yang dimiliknya sehingga ia bermanfaat untuk pribadinya dan lingkungan tempat tinggalnya.

Dalam integrasinya dimaksudkan siswa itu berhasil mengenal dan memperbaharui dirinya yang dipengaruhi oleh sistem pendidikan yang diintegrasikan di kurikulum sekolah. Kurikulum pendidikan integrasi holistik ini berupaya membuat lingkungan (lokalitas daerah) sebagai patron menumbuh kembangkan kemampuannya untuk menyerap informasi dari fenomena lingkungannya kemudian menjabarkan tujuan pembelajarannya secara terjun langsung ke lapangan dengan memberikan kontribusi efektif untuk daerahnya masing-masing. Di sini diperlukan kurikulum pembelajaran sekolah menjabarkan prospek di lapangan (holistifikasi) sebagai bahan mentah membangkitkan minat belajar siswa dan secara integralistik dimasukkan unsur-unsur alami dari lingkungan dimana sekolah itu berada. Misalnya apa yang paling urgen yang ada di daerah itu (wilayah Aceh khususnya) yang berbentuk pengembangan Sumber Daya Alam (SDA) untuk dibudidayakan dan dikemas untuk diajarkan di sekolah-sekolah.

Hari ini kita melihat sekolah dalam kurikulumnya memuat materi-materi pembelajaran yang berasal dari pusat (sentral) sehingga untuk memajukan daerah sendiri terkesan ignore dan acuh tak acuh. Kurikulum pendidikan sekolah yang ditawarkan belum mengakomodir unsur-unsur itu. misal, pelajaran Sejarah (juga Sejarah Bangsa Indonesia dan Sejarah Kebudayaan Islam) masih berkutat hanya pada garis besar sentralistik Negara Indonesia, belum secara jelas mempelajari sejarah Bangsa (lokalitas) sendiri. Padahal bercermin dari bangsa sendiri (juga sejarah Syariat Islam di Aceh) akan membuat suasana belajar lebih berkesan disukai (pragmatis) dan tentu akan membangkitkan gelora membuncah bagaimana berbuat untuk memajukan daerah sendiri. Pelajaran Sains (IPA) juga masih berbentuk kemasan substansial tidak menyentuh kebutuhan primer (kebutuhan pasar)  untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk daerah masing-masing.

 

Pembelajaran Humanisme Teosentris

Disebutkan oleh Prof. Achmadi (2005) bahwa secara prinsip, yang dijadikan paradigma ideologi Pendidikan Islam adalah prinsip-prinsip ajaran Islam yang bersifat universal, yaitu Humanisme-Teosentris. Implementasi ajaran ini dalam praktik kehidupan dan pendidikan dapat fleksibel atau luwes, selama substansinya tetap terpelihara, yaitu: menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana hakikat ajaran Islam, sebagai agama fitrah, memang ditujukan untuk kebutuhan manusia itu sendiri.

Konsep Pendidikan Humanisme Teosentris dengan nilai-nilai Islamisasi Ilmu Pengetahuan dan nilai-nilai kemanusiaan ini dinilai oleh pakar Pendidikan akan mampu memberikan hasil yang diharapkan untuk pemajuan bangsa. Di samping akan menumbuhkan keimanan kepada Sang Khalik juga mengalir kepada pemenuhan kebutuhan hidup umat (Islam) dimanapun berada sekarang ini. Prospek pendidikan semacam ini dinilai wajib untuk diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan (Tingkat Dasar sampai Perguruan Tinggi), karena secara realistis kita sudah dikelabui oleh pendidikan yang bernuasa liberalistik dan sekuler. Sekiranya mengadopsi pendidikan yang bersifat liberal dan sekuler itu mampu menjawab tantangan zaman dan sesuai kebutuhan, itu tidaklah dipermasalahkan bahkan dibolehkan tetapi kedua itu telah menuai kontroversi sampai sekarang karena dinilai tidak objektif untuk mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) dan berbenturan dengan aspek religi suatu bangsa. Alhasil kedua (katakanlah) sistem ini akan ditinggalkan. Namun bukan membuangnya begitu saja tanpa menggantikan dengan format Islami. Di sinilah pendidikan ber-humanisme teosentris berperan penting.

Contoh, semua pelajaran di sekolah (tak termasuk Pelajaran Agama) tidak mencantumkan nilai-nilai Islami sekarang ini. Hal ini akan menyebabkan kegersangan akal budi siswa sehingga ia menjadi riskan kepada nilai-nilai yang dikandung dalam pendidikan. Karena pada hakikatnya memberikan subtansi pendidikan diluar  kaidah Islam (Islami) akan menjauhkan siswa tersebut dari agama Islam itu sendiri, kemudian akan menyebabkan mereka meraba-raba di masa depannya tentang konsep pendidikan mana yang harus di perhatikan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

 

Mendesain Perangkat Pembelajaran

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa semua konsep dan teori di atas hanya menjadi bacaan saja kalau tidak ada aplikasi di lapangan. Langkah praktis aplikatif benar-benar menjadi taruhan nomor satu untuk merealisasikan konsep dan teori di atas. Boleh saja mengakomodir Kurikulum Nasional  pada tahun 2013 ini tetapi kebutuhan daerah juga harus kita prioritaskan, juga sesuai dengan budaya Islami daerah kita. Dalam perangkat pembelajaran (RPP) harus dimasukkan unsur pendidikan yang berintegral holistik dan humanisme teosentris. Caranya, pada kegiatan awal (apersepsi) pembelajaran diselipkan tujuan pembelajaran kepada siswa, yang mana di dalamnya memuat kedua unsur itu. Integrasi dengan Alquran, masukkan dalil atau ayat Alquran yang membahas tentang itu secara garis besar  misalnya, pelajaran Bahasa, , diantaranya (QS.2:31-33, 187, QS.5:83, QS.12:8-10, 31-32, 82, QS.14:4, QS.24:39, 51,  QS.30:22,  QS.20:1-47, QS.27:3-35,  QS.28:34), Ilmu Sosial dan Ekonomi (QS. 2:188, QS.4:7, QS.11:61, 85, QS.14:32-34 QS.16:78, QS.17:33, 35, QS.49:6, 12,  QS.24:27-28,  QS.65:7, QS.30:39, QS.55:8-9),  Sains/IPA (QS.2:218, QS.6:2,  QS.11:61, QS.22:5, QS.7:96-98, QS.22;1-2, QS.25:48-50, QS.27:88, QS.89:21-22,  QS.61:11, QS.55:14, QS.15:26, QS.23:12-14, QS.82:3, 7-8, QS.95:4, QS.32:9, QS.53:45-46, QS.31:29, QS.88:19, QS.78:6-7, QS.99:1-2, QS.57:22),  juga pelajaran-pelajaran yang lain, karena semua pelajaran itu ada dalam sumber-sumber Islam terutama Alquran. Dengan demikian siswa akan mendapatkan nilai-nilai Islami dari mata pelajaran tersebut setelah guru menerangkannya.

Pembuatan perangkat pembelajaran harus dilakukan secara koheren dan simultan guna tujuan akhir dari pembelajaran (Kegiatan Belajar Mengajar) tercapai. Komponen pendidikan harus bekerja sama membentuk kurikulum ini. Dimulai dengan penguatan kembali fungsi Kelompok Kerja Guru (KKG), dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)  pada setiap gugus yang ada di masing-masing daerah. Pemerintah Kabupaten/kota melalui Dinas Pendidikan/ Kementerian Agama Aceh dan Majlis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh berperan sebagai pengawas dan sebagai fasilitator demi kelancaran program yang dimaksud.

Dengan demikian upaya memasukkan pembelajaran yang ber-integral holistik dan ber-humanisme teosentris dalam kurikulum sekolah yang dengan pelaksanaaan secara efektif dan efisien, profesional dan proporsioanal diharapkan kesenjangan-kesenjangan di dunia pendidikan (Aceh) bisa diselesaikan. Upaya reafirmasi dan transformasi konseptual pembelajaran ini dinilai dapat mendongkrak mutu pendidikan kita, sehingga ciri khas pendidikan di Aceh benar-benar Islami dan mampu menjawab tantangan zaman berdasarkan cita-cita Tujuan pendidikan Islam dan amanah Undang-Undang SISDIKNAS No.20 tahun 2003. Semoga!

Like it? Share it!

Leave A Response