Membangun Kedigdayaan Bangsa Melalui Pendidikan

Sunday, Feb 21, 2016 | 1031 views

Oleh: Syamsul Bahri
Penulis adalah Mahasiswa PascaSarjana Konsentrasi Pendidikan Islam IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

pendidikan

Tulisan ni menjadi insiatif konstrukstif sebagai upaya awal menata kualitas komunitas sebuah masyarakat menuju tatanan yang optimal dalam konstruksi nilai kepribadian sebuah bangsa. Untuk membicarakan sesuatu yang esensial dalam ruang lingkup yang besar tentu berangkat juga dari pemikiran yang besar. Persoalan besar harus diselesaikan oleh jiwa dan pemikiran yang besar pula.

Islam memiliki sejarah kemajuan peradaban yang gilang-gemilang. Periode Rasulullah saw membentuk negara Islam Madinah, diketahui di sana Rasulullah bukan hanya sebagai pemimpin agama, beliau juga Negarawan, pemimpin politik dan admisnistrasi yang cakap.

Hanya dalam waktu sebelas tahun (periode Madinah), secara politik seluruh semenanjung Arab tunduk di bawah kepemimpinannya. Selama 30 tahun pasca wafatnya Rasul yaitu periode Khilafah Rasyidah (al-Khulafa’ al-Rasyidun), Islam sudah meluas mencakup sampai Palestina, sebagian Persia dan Mesir, kemudian Dinasti Umayyah, Abbasiyah, Dinasti Fathimiyah Islam sudah menyelimuti Seluruh Jazirah Afrika dan sebagian Eropa.

Inilah  kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam yang tiada tandingannya kala itu, Islam menjadi perbincangan nomor satu, bahkan berada pada tingkat peradaban yang tinggi kedudukannya, ini dapat kita baca dalam literatur sejarah Peradaban Islam. Begitu juga selanjutnya pada tiga periode Pertengahan, beberapa kerajaan Besar, seperti Dinasti Turki Usmani, Dinasti Syafawi, Dinasti Mughal dan lain sebagainya juga sampai kepada Dinasti Samudra Pasai telah ‘jelas’ kemajuannya.

Konteks Kemajuan Masyarakat Aceh

Dalam konteks ke-Acehan maka dimensi  pemikiran ini juga berdasarkan kacamata pengalaman-pengalaman dari dinamika struktural masyarakat Aceh dari masa ke masa. Atas dasar ini pula konstruksi pemikiran tersebut diawali dengan berupaya  membahas aspek perubahan dalam konteks sebuah tamadun/ peradaban suatu bangsa, di mana berawal membentuk sebuah bangsa yang memiliki kebudayaan dan peradaban tinggi, bagaimana proses perjalanan untuk ketercapaian tujuan dan akhirnya menilai mana yang baik diterapkan untuk semestinya diaplikasikan dalam kehidupan  sehari-hari.

Ketika menelusuri lika-liku sejarah Aceh pada akhir abad ke-13 dan pertengahan abad ke-14, secara garis besar yang nampak kepermukaan adalah semangat seorang pemimpinmengubah bangsanya menuju idealisme kemajuan. Kerajaan Islam tidak saja ditandai oleh konsilidasi kekuasaan, tetapi juga keterlibaan sang Raja dalam pengembangan keagamaan serta penyebaran kesadaran kosmopolitanisme kultural Islam.

Petualangan Ibnu Battuta menjelaskan literaturnya kepada kita bahwa dahulu bangsa kita (Aceh) adalah bangsa yang mulia dan dihormati oleh dunia. Bangsa Aceh tergolong ke dalam bangsa yang memiliki kemajuan tersendiri dalam menata pranata kebangsaan, dilihat dalam ihwa awal raja-raja di Aceh (Hikayat Raja-Raja Pasai) menjelaskan tentang keadaaan bangsa pada suatu ketika itu.

Jauh sebelum kemerdekaan, disebutkan oleh H. Muhammad Said dalam bukunya yang cukup populer (Aceh sepanjang Abad), Aceh sudah dinilai memiliki kebudayaan dan peradaban yang tinggi di atas Budha yang masuk ke Nusantara, yang telah dipimpin oleh raja-raja yang mumpuni dengan bekerja sama dari bangsa-bangsa lain di dunia. Aceh disebutkan merupakan pusat Islam terbesar, masuk dalam kategori kerajaan-kerajaan Islam dunia setelah Dinasti Syafawi di Persia dan Mughal di India.

Kemerdekaan Indonesia yang diraih belakangan itu dikarenakan heroisme rakyat /bangsa Aceh tidak bisa dikatakan awal dari pembentukan negara RI. Namun, lebih daripada itu peradaban yang maju dan kuat telah dimulai pada masa raja-raja “Aceh” yang sangat berbeda dengan negara Indonesia sejak merdeka sampai sekarang ini.

Dalam perjalanan Ibnu Battuta juga digambarkan kepada kita, kerajaan Islam Samudra waktu itu sangat memukau, manusia sudah memiliki kebudayaan yang cukup elegan berdasarkan cahaya Islam, rajanya memiliki sejumlah kharismatik yang tak bisa ditandingi oleh raja-raja lain di dunia, apalagi dibandingkan dengan raja-raja “kecil” di Nusantara. Berbeda dengan bangsa lain yang dikunjunginya di Jawa juga sebelah lautan Cina, di sana masih kufur.

Namun itu semua adalah masa lalu, masa sekarang jauh tertinggal, apalagi masa depan, sekiranya semakin jauh dengan tidak berpedomani dengan nilai-nilai terdahulu, justruakan lebih parah lagi. Karena masa yang jauh (lampau) itu juga membutakan manusianyauntuk mengenal  jatidirinya.

Dijelaskan oleh Dato’ Hassan Ahmad dalam judul tulisannya tahun 2008 (Bangsa Melayu dari Perspektif Sejagat), bahwa bangsa  yang kuat atau maju ialah bangsa yang berjaya menciptakan pembaharuan dalam bidang apapun tanpa mengorbankan jati diri  bangsa dan kedaulatan yang dimilikinya atau kedaulatan kesatuan negaranya.

Tamadun bangsa yang besar baik dalam sejarah maupun dalam zaman modern ini, selalunya dibina dari dalam, yakni berdasarkan daya cipta bangsa berteraskan nilai bersama bangsa itu, pengaruh luar jika berlaku, tidak akan merusakkan, malah bisa memperkaya tamadun bangsa penerima sekiranya penyerapan itu berlaku melalui proses penyaringan dan penyesuaian, berteraskan budaya dan nilai bangsa penerima itu sendiri.

Sebaliknya jika dibiarkan tanpa penyesuaian dan penyaringan atau tanpa melalui proses, maka disebutkan bangsa tersebut adalah meniru bangsa lain, bukan pencipta. Dengan tidak melakukan usaha itu juga berakibat tidak langgengnya sebuah peradaban yang dimiliki untuk jangka waktu yang lama, karena disebabkan masyarakat atau penghuni bangsa tersebut tidak menerima dengan sepemahaman dari budaya-budaya luar tersebut.

?Justru yang terjadi adalah pergolakan-pergolakan jangka panjang, persengketaan-persengkataan pemetaan perubahan yang dituju. Dalam arti ini merambah kepada pertikaian-pertikaian dan permusuhuhan yang tidak diharapkan. Karenanya membuktikan bangsa maju berperadaban tinggi harus dimulai dari diri sendiri, akar rumput (grass root).

Pembangunan Mental

Kita (Aceh) sekarang berada dalam dilema mengenal jati diri itu. Dari semenjak Indonesia merdeka sampai MoU Helsinki, kita masih menjadi pengembara yang belum tahu jalan pulang. Kita masih “terseok-seok” di jalanan berlumpur, berdebu dan gersang. Hari ini kita ingin menjiplak budaya-budaya luar tapi tidak bisa.

Hari ini juga kita ingin mengenal siapa diri kita dan ingin merubahnya seperti (keadaan) diri kita, juga belum mampu. Kita masih berada “diantara-diantara” itu semua. Tetapi sejujurnya kita belum memiliki langkah progresif mendukung keinginan dimaksud. Ini bermakna apa yang nampak di hadapan kita tidak kita jadikan acuan untuk pengembangan diri akan datang. Ini disebabkan sangat sulit berkaca dari sejarah, juga begitu susah minggat hidup dalam “lingkaran peniru budaya luar”.

Di sinilah pentingnya peran pemerintah (Gubernur). Pemimpin dalam kategori bangsa raya sekarang ini harus dengan tegas dan aktif menyuarakan langkah praktis, strategis dan progresif untuk pembaharuan bangsa ke arah kemajuan. Pemimpin harus berada di garda terdepan untuk berjalan menempuh cita-cita ini.

Pembangunan (fisik) boleh saja berjalan sebagaimana direncanakan dalam jangka (waktu) tertentu, tapi yang wajib diprioritaskan untuk diterapkan adalah mengubah pola pikir masyarakat dari yang bersifat ‘tradisionalisme’ yang baku ke arah ‘rasionalisme’ yang bermartabat. Mengubah cara pikir masyarakat dalam tatanan kemajemukan “keberadaan” bangsa-bangsa dalam percaturan dunia wajib diupdate setiap saat dimana saja. Momentum ini merupakan langkah dasar mewujudkan bangsa yang berbudaya dan bermartabat.

Mengubah fiskal lebih mudah dari mengubah ‘non-fisik’, artinya mewujudkan pembangunan fisik, seperti pembangunan jalan, sekolah, gedung, rumah, dan lan sebagainya lebih mudah daripada mengubah pola pikir, gaya hidup, tingkah laku dan lain sebagainya. Jadi, memprakarsai yang lebih sulit dahulu kadangkala lebih menguntungkan. Inilah prospeknya yang belum disentuh Gubernur sekarang.

Ironis memang, tatkala manusia sudah dihinggapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kecanggihan media informasi, namun ia lupa diri bahkan mengekor pada bangsa lain, bahwa semua itu diciptakan dari hasil nalaritas manusia sepanjang zaman. Ia larut di dalamnya.

Kemudian sangat mengkhawatirkan lagi, dunia yang telah “modern” ini tetapi manusianya  masih ‘buta’, gelap informasi, kosong pemahaman sejarah, apalagi mengharapkan kerja sama dari ‘mereka’, justru bukan harapan dan tujuan yang akan dicapaitapi pertengkaran-pertengkaran bermunculan.

Menciptakan kemajuan harus berangkat dari dalam diri kita, bukan mengadopsi dari luar tanpa tahu-menahu apa itu sebenarnya dan bagaimana itu dilakukan. Karena prosesnya akan sangat panjang dan menyulitkan. Pemimpin harus mengenal watak rakyatnya secara ilmiah, kita sudah banyak didera konflik berkepanjangan ditambah bencana Tsunami, disadari atau tidak, pola pikir (mentalitas) terjadi penurunan drastis. Mengembalikan dan memperbaharui kegalauan ini butuh pemetaan konsep yang jelas dan berupaya ke arah itu secara spesifik dan sederhana.

Pemimpin perlu bersikap profesional mengenal lebih mendalam akan faktor-faktor keterbelakangan ‘pemikiran’ atau kejumudan saat ini. ke depan, sinyal-sinyal semacam ini perlu diimplementasikan pada segala sektor kehidupan. Pembaharuan bangsa menuju kejayaan, masyarakatnya sejahtera harus berangkat dari ‘akal’ cerdas seorang pemimpin. Berjiwa futuristik dan mampu merangkul pemahaman-pemahaman yang ‘dangkal’ yang telah kita saksikan sebelumnya. Pemimpin harus bergerak agresif terkontrol, harus membongkar faktor-faktor penghambat kemajuan bangsa dan menutup semua kemungkinan-kemungkinan yang muncul untuk menggoda manusia-manusia ‘beriman’ itu. Tapi jangan dilupakan, sebelum mengerakkan sendi-sendi itu terlebih dahulu memproklamirkan, inilah bangsa kita, inilah budaya kita, inilah agama kita. Semoga

__________________

tulisan ini pertama kali diterbitkan melalui PascaDunia.com

Like it? Share it!

Leave A Response