Kronologi Penyanderaan 4 WNI Di Perairan Filipina

Saturday, Apr 16, 2016 | 1434 views

Aktualita.co – Belum selesai kasus penyanderaan 10 WNI oleh Kelompok Abu Sayyaf, terbaru empat pelaut Indonesia kembali diculik. Walaupun demikian belum ada penjelasan resmi apakah 4 WNI yang disandera ini oleh kelompok Abu Sayyaf  atau lainnya.

Kejadian yang terjadi di perairan Filipina pada Jumat 15 April 2016 malam waktu setempat ini merupakan pembajakan ketiga dalam sebulan terakhir yang dialami kapal di perairan internasional di Tawi-Tawi, pulau milik Filipina yang berbatasan dengan pantai timur Sabah.

Dalam keterangan pers, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menjelaskan, pembajakan terjadi pada Jumat 15 April 2016 sekitar pukul 18.31 WIB. Kapal itu dalam perjalanan kembali dari Cebu, Filipina menuju Tarakan, Kalimantan Utara.

Diselamatkan Malaysia

Peristiwa tersebut bermula saat kapal berbendera Indonesia berupa Kapal Tunda TB Henry dan Kapal Tongkang Cristi dibajak dalam perjalanan kembali dari Cebu, Filipina, menuju Tarakan. Di dalam kapal tersebut terdapat 10 ABK yang merupakan Warga Negara Indonesia. Beruntung tidak semua ABK disandera karena berhasil menyelamatkan diri dan meminta bantuan dari Malaysia.

“Mereka datang kepada kami untuk meminta tolong, ungkap Polisi Sabah Datuk Rashid Harun seperti dikutip The Star. Pihak kepolisian Malaysia sendiri belum mengetahui detail peristiwa penculikan tersebut.

“Satu ABK yang tertembak sudah diselamatkan oleh Polisi Maritim Malaysia ke wilayah Malaysia guna mendapatkan perawatan. Informasi terakhir yang  diperoleh bahwa meskipun mengalami luka tembak namun yang bersangkutan dalam kondisi stabil,” ungkap siaran pers resmi dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI yang disusun Direktur Perlindungan WNI Lalu M Iqbal.

Selanjutnya lima ABK lain yang selamat bersama kedua kapal dibawa oleh Polisi Maritim Malaysia ke Pelabuhan Lahat Datu, Malaysia.

Saat ini pihak Kementerian Luar Negeri masih berkoordinasi dengan pihak Malaysia maupun Filipina.

Like it? Share it!

Leave A Response