Ketua Umum Partai Gerindra Suhardi Wafat

Posted on

suhardi gerindra

Jakarta, Aktualita.co – Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prof. Suhardi menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan, Kamis (28/8/2014) pukul 21.40 WIB pada usia 64 tahun.  Sebelumnya, kondisi Suhardi sudah kritis sejak dua hari lalu setelah menderita kanker paru-paru dan dirawat di ICU.

Mengenal Prof Suhardi

Prof. Dr. Ir. Suhardi S.S M.Sc  adalah guru besar UGM kelahiran Klaten, 13 Agustus 1952. Beliau dikenal sebagai intelektual dan praktisi kehutanan yang tak lelah memperjuangkan kedaulatan pangan dan mengkampanyekan bahan pangan lokal terutama ketela. Fadli Zon mengungkapkan, “Prof Suhardi yang sederhana dalam kehidupan, menolak mematenkan karya ilmiahnya, dengan alasan saat sekolah ia dibiayai uang (pajak) rakyat.”

Mahasiswanya kerap menyebutnya Professor “Telo” (ketela) bukan karena ilmunya yang rendah tetapi karena sikapnya yang selalu mengkampanyekan ketela sebagai pangan lokal. Hal ini dilakukannya karena dalam risetnya, Prof. Suhardi menemukan bahwa ketela memiliki kadar kalsium lebih tinggi dibanding beras. Beliau sangat intens mengkampanyekan diversifikasi pangan. Baginya, kita banyak digiring untuk seragam mengkonsumsi beras, padahal banyak wilayah yang awalnya tidak tergantung beras, misalnya sagu dan ketela.

Slamet Thohari, dalam sebuah mailing list menceritakan pengalamannya mendampingi Prof. Suhardi. “Profesor Suhardi, sudah dua puluh tahun lebih naik sepeda ke kampus. Dia punya alasan untuk itu. Hemat BBM, menjadikan hidup sehat, dan tentu menjadi otot lebih kuat. Sepedanya selalu ditaruh di dekat “hutan UGM”. Setiap ke kampus, selalu membawa makanan: klepon, Jendal, dan seterusnya. Bahkan jenis-jenis keripik khas daerah,” tulisnya. Kegemarannya bersepeda membuatnya dianugerahi penghargaan Pengendara sepeda penghargaan dari Sultan HB X pada tahun 2007.
Lebih jauh Slamet Thohari menulis, Profesor Suhardi bukan cuma paham soal makanan. Dia paham juga soal sistem ekonomi, tak henti-hentinya dia mengeluarkan kritik pedasnya pada sistem neo-liberalisme yang sangat “jahat” bagi petani-petani, bagi makanan lokal bahkan bagi gizi seseorang dan seterusnya.

Prof. Suhardi menyelesaikan doktornya pada tahun 1987.  Doktor dan Masternya didapatkan dalam bidang fisiologi pohon dari University of the Philippines Los Baños (UPLB).

Beliau juga dikenal ketika mendeklarasikan ‘Sumpah Gandum’. Sebuah ikrar tidak memakan gandum dan produk turunannya, hingga masyarakat Indonesia sejahtera, tak bergantung pada gandum. Bahkan saat menjabat Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Dephut (2001), Prof. Suhardi mengarahkan jajaran di bawahnya agar membudayakan makan makanan lokal, seperti ketela dan umbi-umbian.

Kesetiannya pada ketela membuatnya meraih penghargaan  Pelopor Pemanfaatan Ketela dari Menteri Pariwisata RI pada tahun 1999. Tentu saja, ada banyak penghargaan lain yang pernah diterimanya antara lain, pada tahun 1996 meraih Research Awards for Foreign Specialist FFPRI, Japan. Kemudian meraih penghargaan International Foundation Indonesian Development Award pada tahun 200 dan juga SFRT SEARCA Award  for Optimization of  Casuarina Equisetifolia sp for Food Security pada 27 November 2007.

Suhardi menulis buku “Mandiri Pangan Sejahterakan Rakyat”, tentang bagaimana seharusnya Indonesia mengelola sumber pangan. Di akhir 2011, buku tersebut dibagikan secara gratis ke masyarakat dalam program “Gerakan Sejuta Buku Untuk Indonesia”.

Dibidang politik, aktivitas beliau adalah menjadi Ketua DPD HKTI Jogjakarta. Selanjutnya bersama beberapa rekan di HKTI mendirikan Partai Kemakmuran Tani dan Nelayan (2003), dan menjabat sebagai Wakil Ketua Umum. Hingga kemudian ikut mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan menjabat sebagai Ketua Umum.

Dalam situs pribadinya suhardigerindra.com, dicantumkan pula 13 pedoman pangan yaitu :

  1. Pangan rakyat harus cocok untuk kebutuhan hidup orang di tropis
  2. Keragaman harus dipenuhi sebagai penopang kesejahteraan rakyat
  3. Pangan yang dihasilkan haruslah memberi manfaat atau penghasilan bagi sebagian besar rakyat Indonesia
  4. Pangan yang utama harus sinergi dengan kelestarian lingkungan untuk keselamatan bangsa
  5. Pangan bagi bangsa Indonesia adalah pangan mandiri dan harus tersedia dalam jumlah yang sangat cukup
  6. Pangan yang dihasilkan harus sedekat mungkin dengan pengguna sehingga dapat selalu disediakan dalam bentuk yang lebih segar
  7. Pangan yang dihasilkan tidak kontradiktif terhadap produk air yang semakin terbatas
  8. lahan untuk produk pangan dapat di lahan pertanian, kehutanan, perkebunan, laut, sungai, rawa, kanan-kiri jalan, kanan kiri sungai, bahkan taman-taman kota, ditanami bersama atau sekaligus tanaman pangan juga sebagai tanaman-tanaman perindang di desa, kota, pantai, juga gunung.
  9. Penyimpangan pangan harus diusahakan dapat di alam, seperti umbi-umbian yang terserdia dalam segala kondisi sehingga saat bencana sudah tersedia di mana-mana
  10. Pada tempat-tempat tertentu pemerintah dapat mengusahakan tempat penyimpanan ikan segar baik dalam kondisi hidup maupun sebagai ikan yang tersimpan baik dalam dry cold storage. Penyimpanan pangan jangan hanya diprioritaskan untuk beras
  11. Ada Pola Kampanye untuk terus menggunakan pangan-pangan lokal yang beragam bagi anak-anak muda, berikutnya diajarkan dan didanai untuk memahami pentingnya pangan-pangan lokal beragam yang tersedia amat banyak di bumi Indonesia ini
  12. Pangan bermartabat
  13. Pangan adalah alat pertahanan keamanan

(*berbagai sumber)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *