Ketauladanan Imam Hasan al-Bashri

Sunday, Jan 3, 2016 | 1103 views

Oleh: M. Yusuf Zulkifli
Artikel ini pertama kali dimuat di Pascadunia.com

zuhud

Nama lengkapnya Hasan bin Yasar Al-Bashri, biasa dipanggil Abu Sa’id adalah salah seorang ulama terkemuka dari kalangan tabi’in yang banyak berguru kepada para sahabat Rasulullah saw. Beliau lahir di Madinah, tahun 21 H atau 642 Masehi dari ayah bernama Yasar, bekas budak Zaid bin Tsabit dan ibu yang pernah menjadi budak Ummu Salamah, salah satu dari istri Nabi Muhammad saw. Jadi beliau lahir dalam kalangan keluarga Nabi saw. Bahkan tak jarang Ummu Salamah menyusui  bayi Hasan ketika ditinggal oleh ibunya.

Ia adalah hafidh Alquran, dan pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Ia adalah ulama terkemuka Bashrah yang terkenal fasih dan  termasuk seorang ahli hikmah. Ia pernah menjadi sekretaris gubernur Khurasan, Rabi’bin Ziyad, pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sofyan. Ia sering ikut berperang dan berjihad di jalan Allah. Ia pernah mengatakan, “Dirham tidak akan membuat seseorang mulia, melainkan justru dia akan dihinakan Allah”. Hasan Al-Bashri adalah seorang ulama yang ensiklopedik, memiliki derajat yang tinggi, faqih, tsiqah,  terpercaya, ahli ibadah, pengetahuannya luas, tutur katanya fasih, dan berwajah tampan.

Popularitas al-Bashri dikemukan oleh banyak pemikir Islam terkemuka, antara lain Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Hasan Al-Bashri adalah orang yang paling mirip perkataannya dengan perkataan para Nabi, dan orang yang paling dekat petunjuknya dengan petunjuk para sahabat”. Maslamah bin Abdul Malik pernah berkata, “bagaimana mungkin suatu kaum akan sesat jika ditengah-tengah mereka ada orang seperti Hasan Al-Bashri”.

Ia adalah seorang ulama yang berwibawa dan memiliki derajat yang tinggi. Ia sering menemui para penguasa dan menyuruh mereka berbuat makruf dan mencegah mereka dari perbuatan munkar. Ia tidak pernah merasa takut menghadapi siapa pun. Ia pernah ikut berperang bersama sekelompok sahabat untuk membebaskan wilayah Khurasan. Di dalam medan pertempuran, ia adalah seorang prajurit yang pemberani.

Imam Hasan Al Bashri seorang hamba yang ahli ibadah lagi pula fasih bicaranya . Beliau salah seorang fuqaha yang berani berkata benar dan menyeru kepada kebenaran dihadapan para pembesar negeri dan seorang yang sukar diperoleh tolak bandingnya dalam soal ibadah. Beliau menerima hadits dari Abu Bakrah, Imran bin Husein, Jundub, Al Bajali, Muawwiyah, Anas, Jabir dan meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat diantaranya ‘Ubay bin Ka’ab, Saad bin Ubadah, Umar bin Khattab walaupun tidak bertemu dengan mereka atau tidak mendengar langsung dari mereka. Beliau adalah ulama ternama di Basrah, Beliau juga meninggal di Bashrah tahun 110 H dalam usia 89 tahun.

Prinsip Kehidupan
Banyak dari buku atau kitab-kitab para ulama-ulama yang membahas tentang kebajikan, kezuhudan dan kebesaran nama Hasan Al Basri. Yang
mana berkat perjuangan beliau berdampak kepada perubahan masyarakat Islam kepada suatu yang lebih baik. Sekaligus menjadi tongkat estafet bagi ulam-ulama lainnya Hasan Al- Basri. Tidak begitu banyak karya beliau dalam bentuk kitab ataupun buku, namun banyak perkataan  beliau dalam pembicaraan kaum sufi diantaranya:

Anak Adam!
Dirimu, diriku! Dirimu hanya satu,
Kalau ia binasa, binasalah engkau.
Dan orang yang telah selamat tak dapat menolongmu.
Tiap-tiap nikmat yang bukan surga, adalah hina.
Dan tiap-tiap bencana yang bukan neraka adalah mudah”.

Imam Hasan Al-Basri sering mengghibah diri sendiri dengan mengatakan,”Engkau berkata-kata dengan perkataan orang-orang shalih yang selalu berqunut dan beribadah, sedangkan engkau melakukan perbuatan orang-orang fasiq, munafiq dan mereka yang suka pamer!” (Tanbih Al Mughtarrin)

Ketika, ditanya tentang rahasia zuhudnya di dunia, dan dia berkata: “Ada empat hal. Aku tahu kalau pekerjaanku tidak akan dilakukan oleh orang lain, maka aku menyibukkan diriku dengan pekerjaanku,aku tahu, bahwa rizki yang kudapat tidak akan diambil oleh orang lain, maka tenanglah hatiku,aku tahu, bahwa Allah selalu mengawasiku, maka aku malu jika Allah melihatku melakukan maksiat,aku tahu, bahwa kematian menungguku, maka kupersiapkan bekal untuk bertemu dengan Tuhanku. Wallahu a’lam bi al-shawwab.

Like it? Share it!

Leave A Response