Keberanian Duterte Hadapi Mafia Narkoba, Abu Sayyaf dan PBB

Tuesday, Aug 23, 2016 | 850 views

Aktualita.co – Nama Presiden Filipina,  Rodrigo Duterte mendadak banyak dibicarakan. Keberaniannya menghukum mati mafia narkoba termasuk pejabat pemerintah yang terlibat membuatnya banyak dibicarakan orang. Tak pelak, sejak Duterte menduduki kursi kepresidenan Filipina, 1.500 nyawa telah melayang atas perintahnya untuk menghentikan peredaran narkoba.

rodrigo duterte

Walaupun demikian, kebijakannya bukan berarti mendapat dukungan penuh. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon bersuara, dan mengkritik caranya yang disebut kelompok pegiat HAM sebagai aksi brutal karena menghukum pelaku narkoba tanpa melalui peradilan.

Tetapi Duterte tidak takut, ia bahkan mengancam bakal keluar dari keanggotaan PBB karena menurutnya PBB gagal menangani terorisme, kelaparan dan mengakhiri konflik. Tak berhenti sampai disitu, ia menyebut akan meminta Cina dan beberapa negara Afrika untuk membentuk badan baru.

Terpilih Menjadi Presiden Filipina dan Kontroversinya

Seperti diketahui Rodrigo “Rody” Roa Duterte yang lahir pada 28 Maret 1945 ini, baru saja terpilih menjadi Presiden Filipina ke 16 pada 9 Mei 2016 lalu dan dilantik pada . Ia merupakan Presiden tertua yang pernah terpilih di Filipina yaitu saat usianya sudah 71 tahun.

Berlatar belakang hukum dan juga politisi dari keturunan Visayan, ia pernah menjabat sebagai salah satu walikota yang paling lama menjabat di Filipina. Ia menjabat sebagai walikota selama 7 periode atau 22 tahun lamanya di Kota  Kota Davao, sebuah kota yang sangat tinggi urbanisasinya di pulau Mindanao. Selain itu sebelumnya ia menjabat sebagai wakil walikota dan anggota kongres.

Salah satu misi besarnya saat terpilih menjadi presiden adalah memerangi peredaran obat-obat terlarang. Ia bahkan tak segan menangkap Wali Kota Albuera yang dianggap melindungi anaknya ketika akan ditangkap saat ketahuan mengenarkan obat terlarang.

Selain itu, salah satu keputusannya yang dianggap kontroversi terkait kebijakannya yang akan memindahkan makam pemimpin diktaktor Ferdinand Marcos yang juga mantan presiden Filipina ke Makam Pahlawan.

Presiden Duterte pada kampanye pilpres Mei lalu memang berjanji akan memindahkan jenazah Marcos ke Taman Makam Pahlawan di Manila. Alasannya, bukan karena Marcos pahlawan tetapi karena Marcos adalah tentara Filipina.

Terbaru, Duterte telah memerintahkan tentaranya untuk memarangi kelompok Abu Sayyaf.  “Hancurkan mereka. Ini perintah. Kita harus bertindak sekarang atau Filipina beresiko terkontaminasi oleh penyakit ISIS,” ujar Duterte dalam pidatonya di hadapan para tentara di pangkalan militer di provinsi Zamboanga del Sur, Pulau Mindanao pada Agustus 2016.

Like it? Share it!

Leave A Response