Kartun Garfield Ternyata Dibuat Di Indonesia

Posted on
https://www.facebook.com/Films.InfiniteStudios
https://www.facebook.com/Films.InfiniteStudios

Aktualita.co – Bagi pencinta kartun, Serial Garfield tentu bukanlah kartun yang asing bagi mereka. Kartun yang menceritakan tentang kehidupan kucing gemuk ini, banyak digemari karena kelucuaannya. Walau demikian, orang-orang hanya tahu bahwa serial Garfield merupakan kartun Amerika yang ciptakan Jim Davis.

Walaupun merupakan kartun Amerika, tetapi produksi serial televisi Garfield rupanya diproduksi di sebuah studio yang luas di Batam. Eveline Danubrata dan Caroline Ng menuliskan catatannya tentang hal ini di Reuters (18/08). Infinite Studio merupakan studio yang memproduksi serial televisi Garfield sejak tahun 1997, serta beberapa film lainnya.

Awalnya perusahaan yang hanya mempekerjakan 13 orang ini sebagai studio pascaproduksi tumbuh menjadi 200 orang dan telah melakukan perluasan usaha meliputi menciptakan konten serta animasi dan efek visual. Tenaga kerjanya banyak didominasi pekerja Indonesia dan Singapura.

Kepala eksekutif Infinite, Mike Wiluan mengungkapkan bahwa Asia Tenggara memang masih merupakan hal baru dalam industri media permainan (media game) sedangkan negara-negara lainnya di dunia telah memiliki sejarah yang lama dalam mengembangkan industri kreatif mereka.

“Saya kira mengapa Garfield telah begitu sukses di seluruh dunia adalah karena mengisahkan petualangan seekor kucing yang sangat lucu dan semua orang memahaminya,” ujar Wiluan kepada Reuters.

Produksi film Garfield memungkinkan untuk dikerjakan oleh animator Indonesia – Singapura yang tergabung dalam Infinite Studio karena menurut Wiluan, Dargaud Media dari Perancis, yang memegang hak cipta “The Garfield Show”, telah membuat “alkitab penciptaan” yang dipatuhi oleh para sub-kontraktor dalam proses produksi.

Infinite Studio sendiri pernah dikunjungi oleh Presiden SBY pada 2012 silam. Selain Garfield sejumlah film yang pernah dibuat di Infinite Studio yang berlokasi di kawasan Nongsa Batam, juga memproduksi Rollbots, dan Franklin and Friends.

Kebangkitan Film Asia Tenggara

Semakin beragamnya film-film yang diproduksi di wilayah Asia Tenggara, bagi banyak orang merupakan sebuah tanda dari kebangkitan industri kreatif. Dalam pandangannya, Wiluan kepada Reuters mengungkapkan, “Saya kira ini peluang besar. Ketika kita menghadapi dunia, kita dilihat sebagai satu wilayah, bukannya satu negara dan mencoba bersaing dalam wilayah yang sangat kecil,” tambahnya.

Data dari PricewaterhouseCoopers menunjukkan kebangkitan film Asia Tenggara melalu data dimana Industri film di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam memiliki nilai total US$1,15 miliar pada 2014, melalui penjualan tiket dan iklan di bioskop. Jumlah ini diproyeksikan akan semakin meningkat hampir 17 persen menjadi $1,34 miliar pada 2018.

Catatan lain yang tak bisa dilupakan dari kebangkitan film Asia Tenggara saat Grup Studio Pinewood dari Inggris, yang terkenal karena waralaba film James Bond, bermitra dengan badan investasi milik pemerintah Malaysia Khazanah Nasional Berhad untuk membuka Pinewood Iskandar Malaysia Studios pada Juni.

Studio Amerika The Weinstein Company akan menggunakan kompleks senilai $170 juta di negara bagian Johor di selatan Malaysia, sebagai tempat pengambilan gambar untuk “Marco Polo”, sebuah serial mengenai penjelajah Italia dari Venesia tersebut, menurut laporan media. Serial ini akan ditayangkan oleh layanan siaran video Netflix.

Di Singapura, pencipta “Star Wars” Lucasfilm meluncurkan pusat efek visual dan animasi pada Januari untuk mengerjakan film-film besar Hollywood dan mendongkrak upaya pemasaran di Asia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *