Ini Isi Buku Anak Islam Suka Membaca yang Dianggap Ajarkan Radikalisme

Thursday, Jan 21, 2016 | 2807 views

Aktualita.co – Buku Anak Islam Suka Membaca yang beredar di Depok dilaporkan oleh GP Ansor di Depok, Jawa Barat dianggap berisi ajaran-ajaran paham radikalisme. Buku tersebut pada dasarnya hanya berisi tentang cara mengeja dan belajar membaca, tetapi beberapa kata yang diajarkan dianggap bermuatan paham radikalisme.

Foto:Foto: Agung Phambudhy/Detik.com

Foto:Foto: Agung Phambudhy/Detik.com

Salah satu contohnya adalah penggunaan kata “Selesai-Raih-Bantai-Kiai”, “bom”, “sahid di medan jihad”. juga kata rela mati bela agama, gegana ada dimana, bila agama kita dihina kita tiada rela, basoka dibawa lari, dan kenapa fobi pada agama.

“Ini sangat bahaya sehingga pemerintah harus bertindak cepat. Sisir semua daerah yang ada peredaran buku itu dan segera tarik dari peredaaran. Pemerintah jangan membiarkan anak-anak kita dirusak pikirannya dengan penyelundupan paham radikalis,” ungkap  Ketua PB NU Bidang Pengkaderan, Nusron Wahid seperti dikutip Antara.

Dalam pantauan Aktualita, buku Anak Islam Suka Membaca tidak hanya beredar di Depok tetapi juga tersedia secara online dengan harga yang cukup murah. Buku ini terdiri lima jilid yang terdiri dari tahap-tahap anak bisa membaca.

Buku ini ditulis oleh Nurani Mustain dan dieditori oleh Ayip Safruddin. Nurani Musta’in sendiri memiliki gelar sarjana psikologi. Menurut Sekjen GP Ansor Adung Abdurrochman, penulis buku Anak Islam suka membaca itu, Musta’in, istri dari Ayip Syafruddin yang merupakan pimpinan kelompok Laskar Jihad di Solo.

Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Amanah, beralamat Jalan Cakra Nomor 30 Kauman, Solo, Jawa Tengah. Cetakan pertama pada tahun 1999 dan telah mengalami cetak ulang sebanyak 167 kali hingga 2015.

Penjelasan Penulis Buku Anak Islam Suka Membaca

Ayip Syafruddin yang menjadi penyunting buku tersebut membantah jika buku Anak Islam Suka Membaca dianggap mengajarkan radikalisme. Misalnya bagian  buku pada rangkaian kata ‘selesai-raih-bantai-kiai’. Rangkaian kata tersebut bukan merupakan kalimat namun merupakan contoh kata yang masing-masing berdiri sendiri. Kata-kata itu dipakai oleh penulis untuk memberikan pengertian tentang diftong monoftong untuk rangkaian vokal a-i.

“Pilihan kata serta kalimat dalam buku itu tidak dimaksudkan untuk mengarahkan anak didik pada paham radikalisme, kecuali memang sengaja dikait-kaitkan dengan penafsiran-penafsiran yang dipaksakan. Namun prinsipnya kami siap melakukan revisi. Misalnya kata ‘bantai’ nanti bisa diganti ‘santai’,” ungkap Ayip.

Like it? Share it!

Leave A Response