Apa Itu Flakka dan Bahayanya Bagi Pengguna

Posted on

Aktualita.co – Walau terus diperangi, nyatanya zat-zat adiktif terus saja beragam jenisnya. Salah satunya yang terbaru adalah flakka. Lewat video yang beredar, terlihat orang yang mengonsumsi flakka akan berperilaku tidak terkendali seperti halnya zombie (kepalanya miring, nyaris kayang, dan susah berbicara).

Walau video pengguna flakka baru beredar beberapa hari ini, ternyata penggunaan flakka sudah berlangsung beberapa lama. Masyarakat dunia pertama kali dibuat heboh pada pertengahan September 2016. Kala itu, seorang pria di Florida Selatan ditangkap pihak kepolisian setelah merusak pintu penahan badai.

Sang pria tak menyadari telah melakukan tindakan tersebut. Setelah diselidiki, pelaku menceritakan bahwa dia berada di bawah pengaruh flakka.

Flakka selain membuat penggunanya berperilaku seperti zombie, juga seringkali mendadak berlari kencang dan menabrakkan diri ke mobil yang disebabkan halusinasi hebat penggunanya.

Flakka adalah ganja sintetis yang berbentuk kristal putih atau gravel (kerikuil akuarium). Karena merupakan ganja sintetis, ia merupakan percampuran zat yang baru.

Dr Benny Ardjil Sp.Kj, spesialis kedokteran jiwa dan minat khusus adiksi narkoba seperti dikutip Tirto menyebut jika zat utama pembentuk flakka adalah alpha-PVP. Zat ini merupakan stimulan yang merangsang naiknya hormon dopamin. Dan bahayanya flakka memiliki dosis yang sangat tinggi dibanding narkoba jenis lainnya.

Pada awalnya flakka diproduksi sebagai obat sintetis pada 2012. Namun, obat ini kemudian dilarang karena para dokter kesulitan menentukan dosis yang pas, kini peredarannya sudah mendunia karena harganya yang lebih murah.

Apakah Flakka Beredar di Indonesia?

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso, mengaku masih mendalami narkoba jenis flakka masuk ke Indonesia. Dia mencurigai barang haram ini sudah beredar di Indonesia.

“Ada beberapa yang kami curigai itu. Sekarang kami lakukan penelitian,” ucap pria yang akrab disapa Buwas itu di Jakarta, Senin (29/5/2017).

Menurut dia, kecurigaan ini mendasar. Meski demikian, Buwas enggan berspekulasi terlebih dahulu sebelum memutuskan narkoba jenis baru itu memang sudah ada di Indonesia.

“Itu sedang dalam penelitian kita ya. Ini kan baru pendapat-pendapat. Baru kami lakukan penelitian dengan Labfor Porli, BNN, BP POM, UI, dan ITB juga,” kata Budi Waseso.

Guna mengantisipasi bahaya yang ditimbulkan, BNN dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengkaji narkotika sintetis jenis baru tersebut pada 2016.

Selain itu untuk mencegahnya flakka juga telah diatur dengan Permenkes Nomor 2 Tahun 2017 dengan nama kimia Alfa PVP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *