Alasan Ajip Rosidi Kembalikan Penghargaan Habibie Award

Thursday, May 26, 2016 | 874 views

Aktualita.co –  Budayawan Ajip Rosidi mengembalikan Habibie Award yang diterimanya pada 2009 lalu. Pada saat itu, Ajip mendapatkan piagam dan hadiah uang dari Habibie Center untuk penghargaan bidang kebudayaan. Penghargaan dan uang yang diterimanya 2009 lalu itu dikembalikan ke Yayasan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Yayasan SDM Iptek) Habibie Center.

ajib

Penghargaan tersebut dikembalikan oleh Ajip Rosidi didasari atas kekecewaan Ajip Rosidi saat tim juri memberikan penghargaan Habibie Award kepada Prof Nina Lubis pada 2015 untuk Bidang Sosial.

Menurut Ajip, Nina bukan orang tepat yang mendapatkan penghargaan tinggi tersebut. Sebab, Nina telah melakukan berbagai tindakan plagiat atas buku-buku yang pernah dibuatnya.

Ajip pun memberikan beberapa contoh karya yang disebutnya hasil plagiat. buku Negarawan dari Desa Cinta yang menurut Ajip merupakan karya dari mahasiswa bimbingan Prof Nina Lubis, Elly Maryam. Elly Maryam dari Universitas Padjadjaran (Unpad) ini menulis skripsi “Peranan dan Pemikiran Mohammad Sanusi Hardjadinata dalam Politik di Indonesia (1945-1985)” pada 2003. Tidak ada nama mahasiswa tersebut pada buku yang ditulis atas nama Nina ini.

Tidak hanya berhenti di sini, Nina pun juga telah melakukan hal sama dalam penulisan bahan tentang KH Nur Ali. Ajip juga menerangkan, Nina telah meringkas habis-habisan roman karya Pramoedya tentang Tirto Adhi Soerjo untuk dijadikan tulisannya.

Bahkan, ia melanjutkan, informasi yang ia tahu, Nina selalu berkirim surat ke pemerintah daerah untuk proyek penulisan buku tentang pahlawan yang ingin ditetapkan secara nasional. “Dia nulis bukunya sangat sembrono,” tegas Ajip.

Baca Juga :  Penghargaan Habibie Award Memperhatikan Standar Profesionalisme dan Integritas

Prof Nina Lubis dan Penulisan Buku Tentang Pahlawan

Seperti diketahui, Prof Nina Lubis memang diketahui banyak menulis tentang tokoh-tokoh yang kemudian menjadi pahlawan nasional. Tak heran jika Gubernur Jawa Barat menjulukinya “Ibu yang melahirkan para pahlawan.”

Beberapa tokoh yang berhasil ditulisnya dan menjadi Pahlawan Nasional diantaranya Iwa Koesoemasoemantri (2001), Maskoen Soemadiredja (2004), Gatot Mangkoepradja (2004), K. H. Nur Ali (2006), RM Tirto Adi Soerjo (2006), K. H. Abdul Halim (2008), dan Mr. Sjafruddin Prawiranegara (2011).

Dari Sumatera Barat ia juga memperjuangkan Rohana Kudus sebagai pahlawan nasional (2008), dan dari NTB yaitu Sultan Bima pada tahun 2010 lalu.

Like it? Share it!

Leave A Response